This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, October 11, 2005

Virgin Suicides

Baru aja selesai baca Virgin Suicides by Jeffrey Eugenides.
Bukan tipe buku yang biasanya kubaca (bukan cerita detektif, bukan komik, bukan bukunya michael chricton dan bukan buku yang ringan ringan aja buat dibaca sambil lalu kayak chicklit). Tapi, entah kenapa, pas ke TeeM, buku ini menarik perhatian aja, dan langsung aja pengen dibeli.

Buku ini, sebagaimana judulnya, memang tentang bunuh diri! Sesuatu yang - knock-knock under table, cross finger, mudah2an - gak pernah terjadi dalam hidupku, dan sampai detik ini gak terpikir bisa kulakukan. "bisa" bukan karena bisa dan tidak bisa, tapi hidup adalah suatu anugerah yang sangat kusyukuri dan sangat kunikmati setiap detik dan setiap saatnya. Sungguh, aku sangat menghargai hidup yang diberikan, walopun kalo memang dipanggil kembali oleh Tuhan, kapanpun itu, aku juga siap siap aja.

Sedih dan bikin miris. Trenyuh. Menggambarkan bagaimana 5 anak remaja mencoba melewati masa remaja mereka. Memang masa-masa ABG - masa masa remaja, dan seribu satu istilah lainnya - sering disebut sebagai masa-masa menyenangkan, tidak terlupakan seumur hidup, terlalu cepat, penuh cerita, tetapi tidak sedikit juga yang mengingatnya sebagai periode suram, buram, sulit dan bersyukur bisa melewatinya. Masa masa dimana rasanya orang tua tidak pernah bisa cukup mengerti apa yang tengah kita hadapi, masa masa dimana rasanya semua masalah yang kita alami adalah masalah berat *the end of the world*lah!

Buku ini dimulai dengan peristiwa bunuh diri gadis terkecil yang baru berusia 13 tahun. Ketika Cecilia - gadis kecil itu - ditanya di rumah sakit dimana dia diselamatkan dari percobaan bunuh diri pertamanya oleh sang dokter,"What are you doing here, honey? You're not even old enough to know how bad life gets". Cecilia menjawab,"obvioulsy, Doctor, you've never been a thirteen-year-old-girl."

Hm hm...
Lihat, betapa sulitnya jadi gadis berumur 13 tahun!
Mungkin, kita jadi tersenyum, dan mengelus dada, sambil berkata, what a stupid girl, off course he's been a thirteen-year-old-(unfortunatelly)boy! Tapi, bayangkanlah, betapa parahnya Cecilia melihat hidupnya sebagai gadis 13 tahun! Kita, yang bisa jadi sudah cukup lama melewati masa itu, bisa saja tersenyum mengenang betapa mungkin (mungkin juga tidak) kita juga pernah merasa hal yang sama.

Tapi ternyata ketika kita harus patah hati untuk pertama kalinya, dunia tidak berhenti sampai disitu, matahari masih muncul di dari timur dan terbenam di barat, beberapa waktu kemudian cinta yang lain datang dan pergi. Ketika kita harus tarik urat leher dengan orang tua yang tampaknya tidak mengerti yang kita rasakan, orang tua yang ketinggalan jaman, orang tua yang terlalu keras, orang tua yang diktator dan otoriter, ternyata terbukti beberapa waktu kemudian bahwa itu mereka lakukan karena kasih dan sayang mereka terhadap kita. Ketika kita berupaya untuk dapat diterima di lingkungan kita (beberapa bisa jadi tidak perduli dengan itu), dengan berbagai hal, beberapa waktu kemudian kita menyadari bahwa menjadi diri sendiri dan percaya diri membuat kita bisa lebih menerima diri kita apa adanya dan membuat kita bisa berada di lingkungan apapun.

Sayangnya tidak demikian halnya dengan gadis-gadis keluarga Lisbon yang ada di buku ini. Kematian adik bungsu mereka dengan cara bunuh diri telah membuat orang tua mereka - khususnya sang ibu - menjadi over protective. Membuat lingkungan di sekitar mereka, melihat mereka dengan cara yang berbeda. Mereka semakin tersisih dari dunia luar, dari dunia sekitar mereka, sampai pada suatu titik, Sang Ibu melarang mereka keluar rumah sama sekali dan bahkan satu rumah tersebut tidak pernah keluar rumah! Bahan makananpun dibeli dengan cara pesan antar! Bayangkanlah usia remaja, di rumah terus menerus dengan berbagai aturan dan tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan sebelum aturan tersebut dilakukan, mereka sudah merasa mereka berbeda, karena cara sang ibu mengatur pakaian mereka, cara bicara mereka, pergaulan mereka dan masih banyak lagi. Sang ibu berpikir bahwa dengan cara ini, ia menyelamatkan anak-anak mereka, padahal di saat itu, justru ia telah menjerumuskan anak anak mereka lebih jauh lagi, ke penderitaan yang bertumpuk. Tidak heran, pada akhirnya, keempat anak yang tersisa memutuskan untuk bunuh diri bersama-sama; entah sebagai upaya melarikan diri dari situasi yang ada, atau sekedar peralihan dari rutinitas membosankan.

Apa yang dihadapi gadis-gadis Lisbon itu mungkin tidak perlu sebagian besar dari kita alami.
Untunglah.

Tapi satu hal lain, aku jadi diingetin, betapa sering aku merasa masalahku begitu berat dan lebih berat dari yang orang alami dan rasanya orang kok ya tidak perduli dengan yang sedang aku alami, tapi sebetulnya, bisa jadi itu adalah cara pandang kita saja, masalah tersebut tidaklah seberat yang kita bayangkan, ia menjadi berat karena kita bayangkan berat, dan orang bisa jadi tampak tidak perduli, tapi sesungguhnya mereka sangat perduli, dan sungguh tahu bahwa ini akan dilalui dan semua akan baik baik saja.

Ketika mengalami banyak hal buruk (maupun baik) sungguh menyenangkan untuk tahu bahwa ada orang orang di sekitar kita yang mengerti kita, dan berada di samping kita selalu, berbagi banyak hal yang kita alami.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home