This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Saturday, November 05, 2005

Kacamata Kuda

Bukan, bukan kacamata di jaman kuda yang bentuknya gak jelas. Ini juga jelas-jelas bukan kacamata cengdem yang kadang bikin mata panas, tapi ditahan demi sebuah gaya. Kacamata kuda itu kacamata yang bentuknya sama sekali berbeda dengan kacamata yang aku tahu, yang dipakaikan ke mata kuda. Kalau gak salah inget, itu dibuat supaya sang kuda tidak plarak plirik kiri kanan *hmm, kayaknya beberapa orang perlu dipakaikan kacamata kuda, deh*, dan menurutku, terutama supaya kuda itu memang hanya melihat ke arah yang diinginkan ama Pak Kusir di belakang kemudi.

Itu dia, supaya si kuda jalan sesuai dengan yang dimauin ama Pak Kusir.
Aku sih yakin, Pak Kusir tidak ada niatan untuk membawa si kuda ke jalan yang buruk, tapi Pak Kusir tahu pasti, jalan mana yang harus diambil si kuda. Apapun itu, si kuda pasti harus nurut dan biasanya memang selalu menurut dengan arah kemudi Pak Kusir.

Dalam hidup kita, apakah kita juga memakai kacamata kuda? Mungkin tidak dalam bentuk fisik, tapi menyambung kalimat yang pernah dilontarkan abang, kita memang memakai satu kaca mata kuda dalam hidup kita. Ada hal-hal yang membuat kita melihat satu hal dengan cara tertentu. Paradigma? Entah, apapun itu. Mungkin satu sikap hidup, mungkin agama, mungkin ideologi apapun, bahkan jika itu menganut paham tidak dikendalikan oleh sesuatu apapun, itupun satu kacamata kuda sendiri.

Aku juga memakai kacamata kuda tersebut, hanya saja baru sadar, bahwa itu adalah satu kacamata kuda yang aku pakai. Ada kusir yang mengendalikan diriku, walaupun sebagaimana ada kuda bandel, kadangkala aku juga ingin membandel, pengen lihat kiri kanan, pengen melewati jalan lain. Tapi aku tahu, aku punya kusir yang sangat baik dan sungguh tahu kebutuhanku. Aku sudah memilih kusir. Hmm, kayaknya salah ya, pernah denger kuda milih kusir? Kayaknya kusir kan ya yang milih kuda. Jadi kuganti deh, kusir itu udah milih aku menjadi salah satu kudanya. Aku bersyukur banget. Kayak seseorang yang sudah diberi sesuatu yang sangat berharga. Seperti kalau kamu berada di satu jurang, sudah mau mati, dan tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangan dan kamu selamat. Kamu pasti bersyukur, sangat bersyukur. Begitulah rasa syukurku, karena kusir itu udah milih aku.

Karena itu, aku tahu, aku harus taat pada kusir itu. Bukan karena takutku pada sang kusir, bukan pada lecutnya, tapi karena rasa syukurku. Aku memutuskan kacamata kuda yang dipasangkan memang dengan senang hati aku terima. Kalau aku harus di-tendem dengan kuda lain, harus milik kusir yang sama dong ya? Harus pakai kacamata yang sama dong? Kalau enggak, yo ngelu rek!!!!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home