This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, February 14, 2006

Belahan JIwa

Sayang, pernahkah kau mendengar kisah ini? Aku tak penah tau asalnya dari mana. Tapi sebuah bintang yang kerlap-kerlip bercerita padaku suatu waktu. Aku juga lupa tepatnya kapan ia bercerita. Bintang bilang, cerita ini telah ada sejak bumi bermula. Aku entah orang ke berapa yang pernah mendengar kisahnya. Bintang juga berkata, tidak semua orang percaya.

Awalnya aku juga tak langsung percaya, maka aku akan maklum jika kau juga tak percaya jika aku bercerita. Aku lantas mengkonfirmasinya dengan bulan dan bulan bilang kisah itu benar adanya. Aku juga bertanya pada angin. Angin bahkan bilang ia telah meniupkan kisah ini kepada seluruh tempat didunia yang disinggahinya.

Tak lupa, aku juga bertanya pada laut untuk lebih meyakinkan diri. Melalui ombak, laut berkata tak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai kisah itu. Ia berargumen, tak kan ada ruginya jika aku percaya.

Aku tak memaksamu untuk percaya. Aku hanya minta kau mendengar kisahnya.

Cerita ini berawal pada saat manusia pertama diturunkan dari surga. Sebuah bintang yang kini telah binasa menyaksikannya dengan seksama. Surga tidak bahagia dengan manusia yang begitu lengkap adanya. Maka, surga pun memutuskan untuk membuat sebuah permainan, sebuah sandiwara di atas panggung yang bernama dunia.

Surga kemudian membelah jiwa manusia itu menjadi dua. Dua jiwa ini dikemas dalam bentuk yang berbeda. Yang satu disebut laki-laki, dan yang lain disebut perempuan. Dua jiwa ini kemudian dilemparkan di tempat yang berbeda tanpa saling tau yang satunya ada dimana.

Yang mereka rasakan hanyalah perasaan yang tak lengkap. Perasaan ini kemudian membuat mereka berusaha untuk menggenapi diri. Mereka melakukan segalanya agar bisa kembali bersatu untuk merasa sempurna. Mereka harus mencari dan terus mencari separoh jiwa mereka yang dibelah.

Dua manusia ini kemudian sama-sama mengembara. Mereka bertanya kepada setiap benda yang ditemuinya. Pertanyaannya hanya satu: dimanakah belahan jiwaku? Tapi, sayang… tak satu pun dari benda itu mampu memberikan jawaban yang pasti. Bukan karena mereka tak mau. Tapi mereka memang tak tau.

Laki-laki bertanya pada kelinci. Kelinci tak tau jawabannya. Karena kasihan, kelinci menjawab sekenanya. Ia menyuruh laki-laki bertanya kepada burung yang malang melintang di udara. Saat laki-laki bertanya kepada burung, burung malah geleng-geleng kepala. Ia menyuruh laki-laki bertanya kepada hiu yang berenang di luas samudera. Namun, hiu juga tidak tau apa-apa. Laki-laki itu hanya bisa termanggu dan menunggu di bibir pantai sambil berdoa agar surga mempermudah permainannya.

Perempuan bertanya pada berang-berang yang sedang membuat sarang. Tapi berang-berang sama sekali tak mengerti apa yang dimaksudkan perempuan. Ia menasehatinya agar bertanya pada kupu-kupu. Ketika perempuan bertanya kepada kupu-kupu, sayap cantiknya hanya bergetar malu. Ia lantas pergi dan bertanya kepada pohon-pohon yang pucuknya begitu menjulang. Ia juga bertanya pada rumput dan bunga. Namun, tak ada yang tau belahan jiwanya dimana. Perempuan hanya bisa menangis dan terduduk di pinggir hutan seraya berharap agar surga menghentikan sandiwaranya.

Bintang yang mengetahui semuanya merasa kasihan dengan dua jiwa yang terbelah. Ia tak sampai hati melihat keduanya bersedih. Maka dengan izin semua temannya yang bertaburan di angkasa, ia kemudian memutuskan untuk menemui keduanya. Dengan mengumpulkan seluruh cahayanya, ia bersiap-siap mengatur rencana.

Ia berusaha menjadi lebih cemerlang dari bintang yang lain untuk menarik perhatian dua jiwa yang sedang berduka. Jika kemudian laki-laki dan perempuan itu melihatnya, maka ia akan menjatuhkan diri dan menempuh perjalanan untuk mengatakan tempat kedua manusia itu berada.

Dengan sabar ia menunggu. Teman-temannya ikut membantu menyumbangkan cahaya. Hingga akhirnya kedua jiwa itu menatap angkasa dan memperhatikan bintang yang lebih berkilau dari yang lainnya. Keduanya kemudian bertanya pada bintang itu dengan sisa-sisa harapan yang ada.

Sekejap kemudian, bintang meluncur dengan laju lebih cepat dari cahaya. Ia tau ia akan binasa, tapi ia lebih bahagia jika melihat dua manusia itu kembali bersatu dan merasa sempurna. Dengan sekuat tenaga, bintang berteriak bahwa kedua manusia itu harus berjalan ke arah puncak tertinggi di dunia untuk bisa saling berjumpa. Setelah melihat senyum di bibir kedua manusia, bintang itu kemudian hancur dengan perasaan penuh sukacita.

Dua manusia yang memiliki separuh jiwa itu kemudian berjalan menuju puncak dunia. Tapi, perjalanan juga tidak semudah yang mereka sangka. Laki-laki harus menyebrangi samudra dan perempuan harus melewati belantara. Hanya harapan yang membuat mereka bertahan melewati semuanya.

Hingga akhirnya, saat bulan penuh purnama, dua manusia itu berjumpa. Bahagia tak terhingga menyelusup dalam hati mereka. Disaksikan oleh bulan yang tertawa, mereka kemudian menggenapi jiwa yang selama ini terbelah. Mereka kemudian mengabarkan pada angin, pada ombak, pada kelinci, pada rumput, pada pucuk pohon dan meneriakkan terimakasih pada bintang-bintang di angkasa. Mereka akhirnya menjadi sempurna.

Tapi, sayang, cerita tak berakhir sampai disini saja. Surga memutuskan untuk tetap menjalankan sandiwaranya. Surga melakukan hal yang persis sama kepada setiap manusia yang ia lemparkan ke dunia. Mereka semuanya lahir dengan jiwa yang terbelah dan diharuskan untuk mencari pasangan jiwanya jika ingin mengecap bahagia. Bintang-bintang jadi kebagian tugas untuk menjadi pemandunya.

Maka, sayang… saat kulihat bintang bercahaya, selalu aku bertanya dimanakah belahan jiwaku padanya. Aku menanti sebuah bintang jatuh untuk membisikkannya padaku. Aku menanti bintang menyebutkan namamu sebagai belahan jiwaku. Sebab aku ingin merasa genap dan sempurna bersamamu.

Percayakah kau pada cerita itu??

*mellow gw hari ini.. Ugh, knapa sih smua cewe harus menje2 kalo dah mo dapet??*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home