This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, February 14, 2006

Live Normally..??

Apakah normal? Titik tengah diantara dua ekstrim ya ada. Hmm… gampang ya defenisinya? Tapi is it really work that way? Apa kamu tau dimana letak dua titik ekstrim itu berada? Apa kamu juga tau dimana letak pertengahannya?

Bagus kalau kamu tau (meskipun aku sangat meragukannya!). Tapi bagi aku? HUAH! Itu tak mungkin. Diatas langit ada langit, kata orang. Kalau kamu pikir satu hal merupakan titik ekstrim, maka selalu ada yang lebih ekstrim dari itu.

Kesimpulannya? Normal sangatlah subjektif. Ia merupakan kondisi yang kau bangun sendiri, terjadi karena tarik menarik segala pengalaman yang pernah kau rasakan. Normal menurutku, belum tentu normal menurutmu. Ekstrim menurutku, bukan berarti ekstrim menurutmu.

Artinya, normal itu konsep yang sangat utopis. Kamu bisa bilang kita punya berbagai nilai yang ‘menjaga’ masyarakat supaya bisa hidup dengan ‘normal’. Punya hukum yang membatasi kebebasan seseorang supaya tidak bersinggungan dengan kebebasan orang lain. Punya nilai-nilai budaya dan segala tetek bengeknya yang menghukum masyarakat secara moral. Ada pandangan tak sedap, ada cibiran, ada pengasingan, itu hukumannya.

Tapi, apa orang-orang itu berhak melakukan itu semua atas nama ‘kenormalan’ tadi? Apa mereka punya hak untuk mengatakan ‘ini lho yang benar’ sedangkan apa yang disebut normal sendiri tak mungkin terdefinisikan? Sebuah paradoks hidup yang lain, sepertinya.

Tapi, kalaupun aku disuruh mendefinisikan sebuah kenormalan maka aku ingin menjawab dengan sebuah mimpi.

Aku ingin bekerja dengan banyak anak-anak. Dimana aku bisa jadi berarti untuk manusia-manusia bertubuh kecil yang siap ditulis dengan berbagai hal indah itu. Bermain dengan mereka sambil mengajarkan banyak hal. Mempersiapkan mereka menjadi apapun yang mereka mau. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang apapun yang mereka lihat. Mengajak mereka pergi ke museum, atau berenang. Mengajarkan cara membuat patung dari tanah liat.

Aku ingin mengajarkan bahwa mereka boleh bekerja apa saja sesuai dengan hati. Tidak perlu selalu menjadi dokter, insinyur, arsitek atau pekerjaan yang dianggap membanggakan. Mereka boleh bercita-cita menjadi penerjemah untuk tuna rungu. Mereka boleh berkeinginan untuk menjadi koki. Mereka boleh menjadi supir taksi. Mereka boleh menjadi penari.

Aku ingin suatu saat jika mereka besar, mereka akan berkata, “Aku masih ingat diajarkan ini oleh Ibu guru waktu kecil.” Itu sangat indah. Mimpi yang sangat indah. Aku ingin dikenang sebagai orang yang memberi warna di masa kecil mereka. Karena aku sangat percaya dengan sentuhan pribadi. Kamu tidak bisa menjadi siapapun yang kamu mau jika sejak kecil kamu menganggap kalau itu hal yang tidak mungkin dilakukan karena dibatasi berbagai nilai dalam masyarakat. Kamu harus dibiasakan berfikir merdeka. Jangan dijajah dengan pandangan mata atau cemoohan orang lain. Kalau kamu pikir itu yang bisa membuat kamu bahagia, maka lakukanlah.

Maka impian ini dibaca dengan cara memaknai kata ‘normal’. Utopis! HUAH!!!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home