This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Monday, February 13, 2006

Memanusiawikan Diri...

Seorang filsuf pernah berkata, sesuatu hal itu disebabkan oleh hal lain. Maka, tidak ada siang jika tidak ada malam. Tidak ada baik jika tidak ada jahat. Aku setuju dengan ini. Maka, dalam ‘duniaku’ (baca:kamarku), aku butuh sesuatu untuk mengingatkanku pada ‘kemanusiaanku’. Sebuah pembanding untuk mengukur ‘betapa manusianya aku’.


Jadi: Aku membeli ikan!


Minggu pagi yang menyenangkan itu dihabiskan untuk mengelilingi pasar Hewan Splendid bareng pasutri bikin iri (Riani en Mas Adi)dan (untunglah ada) Nita. Menyusuri jalan yang hiruk pikuk dengan para penjual kagetan. Ada yang menjual ikan kecil-kecil (5 ekor seribu perak!), ada yang menjual burung-burung dalam kandang sempit, bahkan ada yang menjual primata. Khusus untuk dua hal yang terakhir, itu bukanlah pemandangan yang menyenangkan. Aku kasihan. Dan Riani bilang itu dilarang....


Tapi, kemudian kami menemukan tempat jualan ikan. Dan aku menghabiskan berjam-jam untuk melihat berbagai jenis ikan memamerkan keindahan mereka didepan hidungku. Dari ikan lohan yang sempat jadi idola, hingga ikan-ikan yang aku tak tau namanya.


Awalnya, aku hanya berencana membeli akuarium dan segala peralatannya. Aku ingin ‘membangun’ rumah yang nyaman untuk ikan-ikanku. Lagipula, aku mungkin ke jogja hari rabu, jadi beli ikannya nanti saja.


Tapi, masalahnya, aku tidak bisa menentukan ukuran akuariun jika aku tak punya bayangan akan ikan apa yang mau aku beli. Jadilah, aku melihat-lihat segala macam ikan disana. Ada ikan cupang hias yang harganya 7500 seekor. Ada ikan koki yang standar. Ada ikan arwana yang mahal. Itu yang aku tau namanya.


Namun, disana banyak jenis ikan yang baru aku lihat. Ada ikan blackghost yang berwarna hitam dan bentuknya aneh dan bisa jalan mundur. Ada ikan lemon yang kuning menyala. Ada ikan black molly yang gendut dan bercak-bercak hitam-putih, dan masih banyak lagi. Aku tidak ingat.


Bingung memilih-milih, aku akhirnya melihat ikan lucu. Kata penjualnya, namanya ikan helicopter. Dia gendut seperti ikan buntal versi mini. Sisiknya bertotol coklat seperti panther. Diatas kepalanya ada warna hijau stabilo yang berpendar. Mereka lincah dan atraktif. Dan aku langsung jatuh cinta!


Akhirnya, aku tak hanya beli akuarium, aku juga beli ikan helicopter, dua ekor! Mas adi bilang, nggak apa-apa sebagai percobaan. Tapi, bagaimana kalau aku ke jogja? Hmm… aku harus meminta bantuan teman untuk memberi mereka makan. Mas adi juga bilang, kalau mau liat sejauh mana laki-laki bisa menjaga komitmen, coba suruh dia pelihara ikan itu. Kalau ikannya mati, artinya jangan berharap terlalu banyak. (masalahnya, aku tidak punya objek pengujian hipotesa mas adi ini, hahaha! ada yang rela, anyone? :P)


Begitulah. Aku punya ikan. Nita bilang, harus dipelihara baik-baik. Manatau kalau ikannya sudah besar, bisa dinaikin buat pulang ke medan. :P.


Selamat menjadi lebih manusiawi, dina!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home