This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, February 14, 2006

....Mentraktir Teman...

Tujuan utamaku dan Nita melangkahkan kaki ke jalan stadion itu hanya ingin cari makan. Sate dan gule yang enak. Jadi, beberapa pengamen yang datang terkadang tidak diperhatikan.

Tapi, saat kami selesai makan (meski masih ada sisa beberapa tusuk sate dan sedikit kuah gule dan nasi) seorang anak laki-laki, berusia 5 tahunan mendekatiku. Menggenggam kecrekan dari tutup botol dan gelas aqua plastik yang isinya recehan.

Dia menyanyi sebentar, nggak jelas apa, tapi kemudian dengan santainya berkata “Mbak minta the sosronya dong” sambil menunjuk gelasku yang berisi sosro dingin. Tanpa pikir panjang, aku langsung memberikannya.

Kemudian, Nita menanyakan namanya, sambil aku menyuruhnya duduk. “Agus,” katanya sambil terus menyedot sosro. Himbauan kami untuk minum pelan-pelan tidak digubrisnya. Lalu anak kecil yang tampan itu melihat tiga tusuk sate diatas meja. “Boleh minta satenya nggak, Mbak?” kami pun memberikannya.

Tak lama, kakaknya datang. Seorang perempuan yang usianya paling terpaut satu tahun. Namanya Mirna. Mereka lalu duduk di meja kami. Sepiring sate, semangkok gule dan nasi kami pesan lagi. Sambil makan, mereka memamerkan kebolehannya menyanyi. “Mbak… aku bisa loh nyayi ‘aku punya anjing kecil heri!” Suaranya keras! Dan, ia tidak percaya kalau kami bilang anjingnya namanya HELI, bukan Heri!

Kami bercanda sambil melihat dua anak itu makan. Kadang-kadang si kakak ngambek karena adiknya mengambil lebih banyak tusuk sate atau karena makanannya di mainin. Tapi, ada juga kalanya ia membagikan air dalam gelasnya kepada adiknya.

Tidak butuh waktu lama sampai aku terbawa suasana (as usual!). Aku ambil kecrekan si adek dan mulai bernyanyi. Sambil goyang! Mulai dari lagu bintang kecil sampai goyang dombret. Tukang jualannya Cuma bisa ketawa! Sialnya, si adek malah menyumpal kupingnya dengan tissu sambil tertawa-tawa. “Suaranya jelek!!!” katanya bercanda. Tapi, mereka memberikanku uang receh dari gelas plastiknya. Si adek memberikanku cepek, dan kakaknya dengan bangga memberikan lima ratus logam. Hah!

Satu hal, aku sebenarnya tau betul bagaimana ‘modus operandi’ mereka. Orang tua anak itu akan berdiri tak jauh dari mereka. Memperhatikan. Bahkan sang adek kerap bilang, “Mbak makanannya aku kasih Ibu ya. Ibuku nggak jauh kok. Di lampu merah situ,” katanya dengan polos. Dengan tegas aku bilang kalau dia boleh makan sepuasnya disini. Kalau sudah tidak habis, baru dibungkus.

Bagaimanapun, terlepas dari betapa busuknya konspirasi para ‘mafia jalanan’ ini, anak-anak itu cuma korban. Aku membayangkan, ia melakukan hal yang sama ratusan kali. Menambah ceritanya supaya lebih dramatis (dia bilang dia punya banyak ibu dan ayah dan asalnya dari Surabaya, tepatnya gang Dolly-sementara si kakak bilang itu cuma bohong belaka!)

Tapi ya sudahlah… aku cuma ingin membelikan mereka makan. Aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang wah. Anggap saja nraktir temen, berhubung aku dapet kerjaan baru. Beres.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home