This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, February 07, 2006

Pay It Forward

If someone does you a big favor, don’t pay it back… pay it forward. (Jika seseorang memberimu bantuan besar, jangan dibalas. Teruskan bantuan itu kepada orang lain!)

Saya menangis terharu. Terharu melihat reaksi dunia yang begitu tulus atas kehilangan seorang Trevor McKiney. Dunia berduka karena kehilangan seseorang yang percaya bahwa kebaikan ada dalam setiap hati manusia. Tapi, meskipun ia telah tiada, semangatnya akan tetap hadir pada orang-orang yang punya keyakinan sama. Bahwa dunia – ya, dunia yang kita tinggali saat ini – bisa menjadi tempat yang lebih baik.

Maka, malam ini saya menyalakan berdoa sepenuh hati kepada semesta, agar semua niat baik – sesedikit apapun – dalam hati semua manusia bisa tetap terpelihara. Dan saya berdoa, agar setiap keyakinan untuk bertindak atas dasar niat baik itu – sekecil apapun niatnya – bisa terlaksana.

I will pay it forward to people in need.
Semoga damai ada di bumi, dan dihati setiap kita.

“I tried hard but nothing’s really happened. I think some people are too scared to think things can be different. The world is not exaclty shit.”
- Trevor McKiney, on Pay It Forward -

Ini adalah kisah tentang Trevor McKiney. Pada hari pertamanya di kelas tujuh, Mr. Eugene Simonet, guru baru berwajah penuh bekas luka bakar pada pelajaran social studies memberikan penugasan untuk dikerjakan sepanjang semester: Think of an idea to change the world – and put it it ACTION.

Trevor, yang dibesarkan sendirian oleh Ibunya, Arlene – alkoholik yang bekerja sebagai pelayan bar striptease – mendapatkan ide untuk penugasan itu. Ide itu muncul saat ia bersepeda sepulang sekolah melalui sebuah daerah tempat para gelandangan tinggal.

Idenya sederhana. Judulnya: Pay it forward, meneruskan kebaikan. Bagaimana bisa merubah dunia dengan itu? Begini, kamu harus melakukan kebaikan besar kepada tiga orang. Lalu, minta kepada masing-masing orang tersebut untuk berbuat kebaikan kepada tiga orang lagi. Dan terus begitu… Bayangkan ini adalah multilevelmarketing-nya Robert Kiyosaki, maka kamu akan mendapatkan begitu banyak keuntungan. Dan ini… ini adalah multilevelmarketing dalam hal berbuat kebaikan. Hasilnya? Kamu MUNGKIN akan membuat perubahan di dunia.

Ide sederhana Trevor menjangkau banyak hati. Seperti bola salju – bahkan tanpa sepengetahuan Trevor sendiri. Awalnya, ia menolong seorang laki-laki homeless dengan memberinya makan. Lalu, sang laki-laki homeless itu ‘membayar’ dengan cara membetulkan mobil tua ibu Trevor dan menjelaskan konsep ‘Pay it forward’ kepadanya.

Trevor juga melakukan kebaikan kepada kepada ibunya dengan cara membuatnya berhenti menjadi alkoholik. Trevor juga menjodohkan ibunya dengan sang guru social studies, Mr. Simonet. Hubungan dua orang ini berjalan baik, sampai tiba-tiba ayah Trevor – yang juga pemabuk berat dan suka memukul ibunya – datang dan minta diberikan kesempatan karena dia sudah berhenti mabuk. Meskipun pada akhirnya sang ayah terbukti masih seperti yang dulu, dan ibunya mengaku telah membuat kesalahan dengan menerimanya kembali, tapi hubungan ibunya dan Mr. Simonet tidak berlanjut. Ini, membuat Trevor merasa ia telah gagal menghembuskan semangat pay it Forward. Tapi, ternyata itu tidak gagal samasekali…

Jauh di Los Angeles, seorang pengacara memberikan begitu saja sebuah mobil jaguar baru kepada seorang wartawan yang sedang sial karena mobilnya ditabrak oleh penjahat. Wartawan bernama Chris itu bingung setengah mati dan terus bertanya kepada sang pengacara, apa yang membuatnya melakukan itu.

Setelah didesak, sang pengacara bercerita bahwa pada suatu malam, anak perempuannya sakit asma. Ia membawanya ke rumah sakit. Tapi, tak seorang suster atau dokter pun mau memperhatikan. Seorang pria kulit hitam yang tangannya tertembak melihat hal ini. Lantas, sang pria itu marah-marah ke suster agar si anak segera mendapat perawatan. Ia bahkan menembakkan senjatanya ke lantai. Sang pria kulit hitam menyuruh sang pengacara untuk ‘meneruskan kebaikan’, sebelum ia sendiri di penjara.

Sang wartawan menelusuri ini dan bertemu dengan sang pria kulit hitam dalam penjara. Meskipun awalnya sang pria kulit hitam bermulut besar dengan mengatakan konsep pay it forward itu adalah miliknya, tapi kemudian ia mengatakan yang sebenarnya. Ia telah ditolong seorang perempuan tua. Pada saat itu, si pria kulit hitam sedang dikejar-kejar polisi karena mencuri. Tiba-tiba, seorang perempuan tua lewat dengan mobilnya yang penuh dengan barang-barang. Perempuan itu kemudian mengajaknya naik. Saat sang pria kulit hitam bertanya kenapa perempuan itu menolongnya, perempuan itu bercerita kepadanya tentang konsep pay it forward.

Penasaran, wartawan itu terus menelusuri cerita ini. Ia mendatangi perempuan itu. Ia adalah gelandangan yang tidur di mobil dan parkir dimana-mana. Ternyata, perempuan tua itu meneruskan kebaikan yang ia dapat dari anak perempuannya. Anak perempuannya itu memaafkan segala perbuatannya karena tidak pernah menjadi ibu yang baik. Anak perempuan itu adalah… Arlene, ibu Trevor.

Wartawan itu kemudian datang ke rumah Trevor, bertemu Arlene dan juga nenek Trevor. Sang wartawan kaget bukan kepalang bahwa konsep Pay it forward itu muncul dari seorang anak berusia sebelas tahun, untuk tugas social studiesnya. Saat Arlene menjelaskan bahwa Trevor merasa gagal, sang wartawan menjelaskan bahwa gerakan Pay it Forward itu sudah sampai dimana-mana.

Trevor lalu diwawancarai. Ia bercerita tentang ‘kegagalannya’. Ia berkata, “I tried hard but nothing’s really happened. I think some people are too scared to think things can be different. The world is not exaclty shit.”

Wawancara yang dilakukan dalam kelas itu dilihat oleh ibunya dan Mr. Simonet. Itu, membuat Mr. Simonet menyadari ‘kesalahannya’ dan kembali ke Arlene, ibu Trevor, saat itu juga di sekolah. Tapi, tiba-tiba, mereka mendengar suara gaduh. Trevor sedang berkelahi, ia membantu teman sekelasnya yang sedang dikeroyok oleh berandalan sekolah.

Mr. Simonet berlari untuk memisahkan… tapi terlambat. Pisau sang anak berandalan menembus perutnya….

Dan Trevor… dokter tidak bisa menyelamatkannya di ruang operasi.

Berita itu muncul di TV. Sebagai penghormatan untuk keyakinan Trevor untuk mengubah dunia. Gerakan itu sudah sampai dimana-mana.

Malam begitu gelap, segelap hati Arlene dan Mr. Simonet. Tapi, secercah cahaya masuk lewat jendela mereka. Dan saat mereka membuka pintu… rarusan orang berkumpul didepan pintu mereka, membawa rangkaian bunga dan menyalakan lilin untuk mengenang Trevor.

Adegan. Penutup. Itu. Membuat. Saya. Menangis.
Ya… saya menangis. Ini, adalah film yang luar biasa dan pasti memberikan inspirasi pada setiap orang yang menontonnya dengan hati.

*Teteup nangis menggila, meski dan bolak-balik nonton en baca novelnya dari 5 taun lalu…*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home