This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, February 14, 2006

Surat Suratan Hidup 1

Kadang-kadang, kita selalu berfikir kalau kesusahan hanya menimpa orang yang jauh dari kita. Tapi, kenyataannya, ia ada disini. Dekat. Dan seorang teman sedang bertarung dengan kesusahan itu. Semoga mereka diberi ketabahan.

*dina*


Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam atas uluran tangan dan doa serta dorongan yang telah diberikan teman-teman, saudara dan handai taulan. Dengan perasaan haru, kami menerima pertolongan baik materiil dan moril, langsung maupun tidak langsung bagi keberlangsungan hidup putera kami, Pranarya Raputra.

Sejak usia kehamilan lima bulan, bayi yang kami cintai telah divonis dokter menderita penyakit Dandy Walker Syndrome. Penyakit ini disebabkan kelainan kromosom akibat faktor genetik dan kemungkinan kondisi lingkungan yang buruk. Dalam silsilah keluarga kami sendiri tidak ada yang menderita penyakit ini.
Tiga dokter di rumah sakit yang berbeda dan satu psikiater menyarankan untuk menggugurkan atau menghentikan (terminasi) kandungan tersebut. Mereka menyatakan putera kami yang cacat itu tidak layak dipertahankan dari sisi medis. Pertama, bila dipertahankan bayi ini akan membahayakan nyawa si ibu. Kedua, di dunia belum ada penyembuhan untuk penyakit tersebut.

Namun kami bertahan untuk tetap meneruskan kehidupannya dengan segala resiko yang akan dihadapi. Karena kami sendiri tak kuasa membunuh dan menghentikan kehidupan buah cinta tersebut. Kami berpegang teguh dan terus berharap selalu ada jalan bagi putera kami. Apalagi kami sudah menyayanginya dan merasakan kehadirannya.

Adanya kelainan kromosom itu mengakibatkan tidak adanya otak kecil di bagian kepala putera kami. Karena tidak ada, maka fungsi-fungsi otak kecil seperti keseimbangan otomatis tidak bisa dilakukan. Dokter mengatakan kemungkinan bayi kami akan lumpuh untuk selamanya.

Selain itu, ruang otak kecil yang kosong itu pun akan diisi oleh cairan. Lama-kelamaan dikhawatirkan cairan itu akan semakin menekan kulit kepala yang akhirnya menyebabkan hydrocepalus (kepala besar). Syukur sejauh ini diagnosa dokter syaraf menyatakan belum ada tanda-tanda hydrocepalus.

Putera kami juga menderita cacat fisik berupa sumbing yang membelah dari hidung sampai ke mulut. Istilah kedokterannya Labio Palato Genato Skyzis. Cacat ini mengakibatkan saluran pernapasan dan pencernaannya menyatu. Akibatnya setiap kali makan atau minum, dia akan tersedak.

Oleh karena itu sampai umur sepuluh hari, putera kami belum mendapatkan ASI dan hanya mendapatkan asupan makanan dari cairan infus. Dia juga masih menggenakan masker oksigen. Pernah pada hari kelima, suster memberikan ASI namun akibatnya fatal karena justru membuat pernapasannya sempat terhenti. Akhirnya diputuskan sebelum dilakukannya operasi sumbing itu, makan dan minum dipasok dari cairan infus. Operasi sumbing itu sendiri baru bisa dilakukan pada usia dua bulan dan jika kondisi kesehatannya memungkinkan.

Hingga hari ini, bayi kami masih terbaring di Ruang ICU/Perinatologi Lantai empat, RS Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. Kondisinya terakhir dikabarkan mulai membaik walaupun masih belum stabil. Kami masih berjuang agar dia bisa tetap hidup karena kami percaya selalu ada mukjizat dan tangan Tuhan yang bekerja atas dirinya. Kami memohon agar saudara, ibu, bapak, teman dan handai taulan untuk mendoakan putera kami. Amin.

Salam hangat dari kami.
Edy Can, Dian Intannia dan Pranarya Raputra

0 Comments:

Post a Comment

<< Home