This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Wednesday, February 22, 2006

Wajah Masyarakat Kehilangan Identitas...

Kalau kita bertanya pada seseorang, "siapa nama anda?", dan orang yang kita tanya itu menjawab, "saya Sugiono", maka pengetahuan kita akan mengatakan orang tersebut berasal dari etnis Jawa. Kita juga tidak akan terlalu sulit untuk mengenali kalau Gorbachev dan Kasvarov itu orang Rusia; Weber dan Jurgen Habermas itu dari Jerman,; Durkheim dan Bourdeau itu orang Prancis dan seterusnya, karena kita masih bisa menemukan titik temu antara nama atau identitas seseorang dengan latar belakang bangsa, budaya dan negaranya. Kecil kemungkinan, dan nyaris muskil jika orang Inggris bernama Asep, Warsito atau Saur.

Saya tidak tahu, apakah nama-nama orang Rusia, Jerman atau orang Prancis yang hidup sekarang masih terkait erat dengan latang belakang kebangsaan dan budaya mereka, yang jelas dalam masyarakat Indonesia kita akan sering kecele – dan terasing (?) – dengan nama dan identitas kesukuan dan kebangsaan seseorang jika kita tidak melihat secara langsung orangnya. Bayangkan saja, jika kita tidak melihat sosok dan suaranya, apakah kita cukup yakin untuk mengatakan bahwa "Nafa Urbach" yang penyanyi dan pemain sinetron itu adalah orang Indonesia asli? Saya kira tidak. Lain halnya jika kita bertemu dengan nama Hamonang Pangaribuan. Jernih rasanya untuk mengatakan bahwa orang itu berasal dari etnis Batak, atau Ujang Sumantri yang berasal dari etnis Sunda.

Bagi kelompok masyarakat atau etnis yang masih kuat memegang adatnya, seperti Batak, Minang, dan Manado – untuk menyebutkan sebagian – yang biasa menambahkan ciri identitas kesukuan di belakang namanya, kita tidak akan terlalu sulit untuk mengatakan, bahwa Ronald Purba, atau Michele Silalahi itu adalah orang Batak atau orang yang memiliki hubungan kerabat – karena perkawinan – dengan orang-orang dari etnis Batak. Tapi, bagaimana dengan nama-nama, seperti Nafa Urbach, Dorche, Tedy, Bony, Marcel, Pinky, James, Robert, Primus, Johny, William, Baby, Firly, dan sebagainya jika nama-nama itu tidak diembel-embeli Chaniago, Kalangi, Wiraatmaja, Sembodo dan sebagainya? Rasanya sulit untuk mengenali mereka jika kita tidak melihatnya secara langsung, bahwa hidung mereka pesek, rambut mereka hitam, mengenal istilah dan kebiasaan mudik, makanan pokok mereka nasi, dan suka mengkonsumsi sambal dan lalap.

Pertanyaan kita sekarang, apakah kenyataan ini merupakan antitesis empiris terhadap pandangan yang meyakini realitas kebangsaan dan nasionalisme itu "ada"? Apakah kenyataan ini merupakan bukti, bahwa identitas kebangsaan dan nasionalisme itu adalah imajinasi belaka; adalah hasil rekayasa bahasa; dan karena itu adalah hasil kehendak kekuasaan seperti yang ditulis Benedict R. O’Gorman Anderson (1983) dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread Nationalism?

Untuk mendiskusikan pertanyaan tersebut, Cozy Corner mengundang kalian – siapa pun engkau – yang berminat memberikan pendapat secara tidak emosional, selaras konteks, dan mencintai perdebatan.
Selamat berpikir dan menganalisis!

7 Comments:

Blogger Nina Nutter said...

Din, would you come over to visit my blog ? I'll be waiting at http://ninanutter.blogspot.com.

Nina-FH ^_^
0110100130

6:46 PM

 
Anonymous Anonymous said...

Ничего такого классного раньше не читал….

5:29 PM

 
Anonymous Anonymous said...

Гламурненько

11:58 PM

 
Anonymous Anonymous said...

Надо делать клуб единомышленников!

2:45 PM

 
Anonymous Anonymous said...

Спасибки за инфо, давно искала что-то подобное

9:01 PM

 
Anonymous Anonymous said...

Немного медленно грузится сайт, может потому что я из израиля Но главное что не зря ждал, интересно.

1:32 AM

 
Anonymous Anonymous said...

Ну ты даёшь!

7:37 AM

 

Post a Comment

<< Home