This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, March 03, 2006

Caranita's say....

Ni orang 'comment'ke mail karena kepanjangan en nggak cukup untuk nongkrong di 'comment-blog'. Hemm... jadi mikir nih.... Eniweih, lagi mood untuk serius, jadi minggu2 ini nulis yang serius ajah yaa... Ni diah mailnya..."yang dia permak, biar bisa gw blog-in hui hi hi..."

Ketika status "bebas" dilepaskan, kemanusiaan pun harus diserahkan...

Begini. Si kecil cabai rawit itu bercerita bahwa ketika dia dan bosnya mewawancarai seorang sumber berita yang menjadi penghuni LP tersebut, mereka harus melakukannya di sebuah ruang "khusus pasangan" untuk memperoleh sedikit privasi. Rupanya yang disebut ruang khusus pasangan adalah ruangan di mana para napi dan pasangannya bisa menyalurkan hasrat bersayang-sayangan.

Jangan membayangkan bahwa ruangan itu terbagi atas bilik-bilik kecil yang dapat digunakan masing-masing napi dan pasangannya untuk penumpahan kebutuhan biologis mereka (walaupun cuma sampai batas tertentu). Oooo, tidak! Para napi dan pasangannya dipersilakan untuk mencari sudut masing-masing dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Mau berbincang saja, boleh, tapi lebih dari itu juga tidak dilarang. Tidak heran bahwa berbagai aksi keintiman yang terjadi di tempat tersebut sempat mengacaukan konsentrasi penulis kita.

Saya memang belum pernah berkunjung ke penjara, dan barangkali keterkejutan saya membaca cerita Dina boleh ditafsirkan sebagai pengabaian terhadap apa yang terjadi di sekitar saya. Beragam sumber informasi telah menyajikan kepada saya berbagai gambaran menyeramkan tentang kondisi di dalam sebuah lembaga yang notabene berfungsi sebagai alat mengkoreksi kepribadian para pelaku tindak kriminal (baik yang terbukti maupun yang tidak). Dan bagaimana individualitas harus dilupakan.

Tapi tidak pernah terpikir oleh saya bahwa untuk hal yang sifatnya sangat pribadi pun sang napi harus rela memperolehnya secara kolektif.

Buat saya, pengaturan demikian sama juga dengan pengebirian kemanusiaan, baik terhadap sang napi maupun pasangannya. Terlepas dari kesalahan yang telah dilakukan sang napi. Dan yang menyedihkan saya, hal ini dilegalkan.

Saya rasa pada dasarnya para napi -- dan terutama pasangan-pasangannya -- tidak ada yang rela jadi tontonan gratis seperti itu. Hanya, apa boleh buat, tidak ada jalan lain, kecuali bersedia berselibat secara total. Dan setelah beberapa lama barangkali rasa risih terpinggirkan. O ya, saya tentunya tidak senaif itu mengasumsikan bahwa dalam masyarakat kita perilaku intim di tempat publik ditabukan sama sekali -- kita toh bisa melihat insiden cium-mencium dan seterusnya di bioskop atau arena-arena keriaan malam. Namun semuanya kan daerah "remang-remang", artinya tanpa sorotan sinar yang kuat *nyengir lebar*.

Sekarang andaikanlah kita berada pada posisi sebagai pasangan napi. Setelah kita ber"panas-panas" ria, waktu sejam yang ditentukan sudah habis, kita merapikan rambut dan pakaian yang kusut *hmm, heheh...*, kemudian kita keluar dari ruangan diiringi tatapan tidak saja pasangan kita, tapi mungkin juga napi lain, serta penjaga penjara (ya, walaupun istilahnya "LP" tetap saja esensinya penjara kan?). Kalau saya, rasanya seperti ditelanjangi. Dan saya bayangkan, kondisi seperti itu menyuburkan perilaku melecehkan. Hih, saya tidak mau berpikir lebih jauh ah *merinding*.

Sebenarnya banyak kok yang bisa dilakukan untuk memfasilitasi penyaluran hasrat perkasihsayangan *apa coba?* para napi. Buat bilik sederhana dari papan-papan tripleks, ditutupi kain, plastik, atau apalah. Ya seperti bilik untuk mencoba pakaian di toko-toko busana. Atau sediakan ruang khusus, yang demi alasan keamanan bolehlah tidak berjendela, tapi cukup dengan satu lubang ventilasi. Atur jadwal kunjungan pasangan. Mungkin kelihatannya seperti motel atau bahkan bordil. Tapi rasanya lebih manusiawi daripada dipasangkan di tempat terbuka seperti sekarang.

Kehilangan status "bebas" seharusnya tidak berarti kehilangan status sebagai manusia. Dengan memanusiakan para napi, logikanya mental mereka lebih disiapkan untuk menghadapi masyarakat sekiranya satu saat nanti mereka memperoleh kesempatan itu lagi.

Huh, saya tahu, saya terlalu utopis.. Dan persoalan yang ada di luar sana masih terlalu banyak...

by : Caranita... (Thengkiuh yah jeng..!! Ntar comment lu di-mail gw, diposting ajah yaahh. Atouw lu bikin blog khusus ngebahas blog gw hua ha ha ha... GRAZIAS...)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home