This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, March 03, 2006

My (BAD) Experiences with STARBUCKS !!



Even if I love my country so much, I have to be objective about this particular matter: it has a lousy service! Disini, banyak yang tidak tau bagaimana meng-apresiasi pelanggan. Banyak toko yang tidak ramah terhadap customernya, menganggap pelanggan itu inferior.

Contohnya. Starbuck. Meskipun aku pecuintah berat kopi, tapi aku harus memberikan thumb-down untuk pelayanan di starbuck sby yang tidak customer-oriented (cuih cuih, gak bakal gw balik kesana lagih!!)

Ceritanya, aku, Riani dan Roy Pohan mau ngopi disini sambil nunggu si Boss (meskipun tidak ada wi-fi, ya sudahlah!). Kami memesan secangkir cappuccino dan caramel macchiato beserta sponge-cake favouriteku. Pelayan yang melayani kami lumayan ramah. Tapi, saat aku berpindah orang untuk menanyakan asbak, orang itu bilang ‘asbaknya tidak ada, sedang dicuci, nanti kami antar’, tanpa sedikitpun senyum diwajahnya. Ya sudahlah, pikirku. Walau dia tidak senyum toh dia mungkin akan mengantar asbak.

Tapi, ditunggu berapa lama, dia tidak muncul juga. Sampai aku bertanya kepada pelayan lain dan dia dengan segera mengambilkannya. Ya sudahlah.

Ternyata, kesalku tidak hanya sampai disitu.

Sebagaimana yang diketahui khalayak ramai, jika Roy Pohan sudah menenteng kamera, dan aku+Riani ada bersamanya, maka kami akan menjadi banci foto sejati. Kamipun berfoto-foto ria di meja ini: memfoto aku yang sedang di depan laptop sambil minum dari cangkir starbucks, Riani yang sedang menelpon, aku yang sedang senyum-senyum dan macem-macem ours fotogenit's style...

Tiba-tiba, seorang perempuan dari manajemennya dateng menghampiri. Tanpa ngomong permisi, ditambah wajah jutek yang menyebalkan, dia bilang kami tidak boleh foto-foto. Kami tidak boleh meng-capture apapun yang berbau Starbucks jika tidak mengantongi izin. Tidak juga suasananya.

Aku sebenarnya tidak masalah dengan larangan itu. Itu toh hak mereka mengingat mereka punya policy sendiri. Tapi, yang aku permasalahkan adalah cara mereka menginformasikannya kepada pelanggan. Ketidaktahuan itu wajar. Dan orang yang tidak tau, berhak diberitau dengan cara yang sopan dan beradab. Setidaknya, dia bisa bilang ‘permisi,’ sebelum menginterupsi. Dan setidaknya tersenyum ramah kepada customer. Sama-sama senang toh?

Lantas, dengan ‘beringas’ (as usual), aku meminta formulir kritik mereka. Dengan sigap, aku menuliskan semua komplainku. Mudah-mudahan pelayanannya bisa lebih baik dari itu lain kali. Tapi, yang pasti lain kalinya kepada orang lain. Karena, jika ke Sby, aku bakalan ogah untuk menyambangi Starbuck lagi. Dome atau excelso mungkin lebih menyenangkan untuk dijadikan sarang kongkow.

"Eniweih, pngalaman yang nyaris mirip dialamin juga ama Mbak Mell, ditempat yang sama pula" *(cuih cuih banget ya mbak hi hi hi)

-CoMMenTs-

mellyana said...
ngacung! gue juga punya pengalaman buruk yang mirip2. din, knapa ya, di endonesah ini, ampir di semua jenis, kayaknya kata "service" a.k.a melayani itu tidak dikenal ya? :p

gue juga inget maen ke Sun, di salah satu upaya mencari satu resto, tiba-tiba si pak satpam bilang, disitu juga bisa makan, sembari nunjuk expresso dan starbuck...yeah yeah! tapi please deh makan kopi getho? hmmmm atau otak gue yang terlalu nge-set tempat ngopi adalah tempat ngopi, kalopun makan, itu tuh ngopi sambil makan, bukan sebaliknya

(komen kok panjang amat ya? kekekek)

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Lain kali kalau ada yang gituin mas gini aja 'wah, ini servis paling ramah yang pernah saya dapatkan' dengan nada sarkas

11:04 PM

 

Post a Comment

<< Home