This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Saturday, June 24, 2006

Eh, Kawin...

Hemm, menikmati sore dengan akses internet yang 'terseok-seok', akhirnya bisa juga mengumpulkan prempiwi dari 4pnjuru mata angin untuk ber-girl talk. Well, apalagi yang dibicarakan kalau bukan masalah hati???

Vitrea memberikan kabar ‘gembira’: bahwa pacarnya melamar dia tak berapa lama lalu. Tentu saja kami – the jomblos – membelalakkan mata dan berteriak-teriak kegirangan tak terkira. Katanya, jika tidak ada halangan, akhir tahun ini ia akan menikah.

Dan sebagaimana lazimnya cewek-cewek, kami tentu saja sudah merencanakan macam macam hal. Mulai dari tema pesta (harus outdoor karena vitrea adalah fotografer yang selalu di lapangan, dan pacarnya adalah instruktur panjat dinding), bentuk undangan (harus yang simple tapi gaya!), foto pre-wedding (gimana kalo diadakan ‘rally foto’ yang melibatkan anak Antara dengan Vitrea+Pacar sebagai modelnya), hingga ‘sumpah’ bahwa kami harus jadi pager ayu (pasti cowok2 Antara pada bingung ngeliat kita yang tomboy pake kebaya!).

Senangnya…

Tapi, aku baru saja nonton Oprah di Starworld. Kali ini bintang tamunya adalah mantan istri Lance Armstrong, sang pembalap. Temanya: ia mengaku, pernikahannya dengan Lance adalah ‘pembunuhan karakternya’. Bahwa ia merasa bahwa pengorbanan adalah hakikat pernikahan. Dan ia berkorban begitu banyak dan tanpa sadar, ia tersedot dalam institusi perkawinan, dan pada akhirnya bahkan tidak lagi mengenali dirinya sendiri.

Hal ini dibenarkan oleh Dr. Robin, yang baru saja merilis buku berjudul ‘Lie at the Altar’. Ia mengemukakan bahwa hingga abad 21 ini, perempuan pada umumnya masih melihat perkawinan sebagai sebuah kisah Cinderella. Bahwa setelah menemukan ‘prince charming’ – dan menikah – maka kita akan hidup bahagia selamanya.

Show itu juga menghadirkan dua pasangan yang telah bertunangan dan akan menikah segera. Tapi, setelah persiapan yang matang dan semakin dekat menuju hari H, sang perempuan merasa takut luar biasa (Hah! Dan aku selalu berfikir bahwa itu normal-normal saja. Bukankah semua orang merasa takut?). si perempuan takut karena mereka merasa ‘terjebak’ dan tidak bisa balik kanan dan bilang “Sorry, aku nggak pengen menikah”.

Dr. Robin bukan anti pernikahan. Dia hanya anti pernikahan yang menyebabkan perempuan yang kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu, katanya, orang yang hendak menikah harus benar-benar mengenal orang yang akan dinikahinya. Walaupun akan ‘berat’, tapi harus benar-benar dibicarakan hal-hal yang paling sensitive. Intinya, buat apa menghabiskan uang untuk menikah, dan berfikir bahwa hal yang sensitive dibicarakan nanti saja setelah menikah soalnya sudah ada cincin tunangan melingkar di jari. Haloo… masa depan perempuan tidak bisa dipertaruhkan hanya demi mempertahankan cincin berlian atau uang yang sudah dihabiskan untuk wedding organizer kan?

Lantas, aku teringat Vitrea.

Sebelum dia pacaran dengan si pemanjat dinding, dia menghabiskan stahun ‘mengejar’ seorang fotografer muda berbakat yang – menurutku – gagu dan nggak worth it. Sampai akhirnya, Vitrea mengenalkan sang pemanjat kepadaku. He was cute, and really in love with her! Dan aku langsung dengan getol ‘menyarankan’ kepada Vitrea bahwa cowok yang satu ini sangat layak diberi kesempatan. And for two months, they're prepare for wedding!! dueh, kilat bener hi hi hi

And I’m wondering, kalau ternyata semuanya tidak berjalan dengan baik, apa nanti aku yang disalahkan ya? Ah… Jadi serem.

-----
Barusan Vitrea sms (agak di edit nih): “Just had dinner with his family. The conversation was straight to the point. It was nice J”.

Aku membalas, “Glad to know that you are happy.” Dan menghela nafas, sedikit lega.

PS : Para manten anyar bulan ini, Slamad slamad... Buat yang juga mo kawinan, monggo koling2 dakuw buat jadi tukang poto... Harga bisa nego... hi hi hi
Mbak Tari n Mas Dodo


Klodi n Mas Agus



-CoMMenTs-

lenje said...

I was in the situation of feeling entrapped. I got depressed by the whole wedding preparation and at the same time I knew that I've lost my feelings AND respect for the groom-to-be, and that it would be big mistake proceed with it.
I took the bold step. I cancelled it, never regretted it.

2:28 AM

a wanderer said...

no one will blame you sist..it's her choice. you've done your good job as friend.
how about you..? :))

12:39 PM

Dina said...
lenje:wahhh... berani ya! saluuuut!

wanderer:how bout me? maksutloooooo??? kawin? jauhhhhhh!masi tatuttt

1:50 PM

rendy said...

kawin / nikah ?

6:49 PM

johan said...
bener juga ya ... kawin=membunuh karakter ... misalnya mbak dina kawin sama aku ... pasti nanti jadi Ny wowor ... :) ... dinanya hilang ......heheheh

10:57 PM

Dina said...
rendy: nikaaaahhh...!
johan: iyah. Seringnya begitu kan? Ny. Wowor. kikiki... atau, ya... mamahku itu dipanggil "ibu'e Dina", atau "Bu Natsir" (dari papah gw). lah, nama emak gw jarang ada yang tau! Tapi mamah gw kekeh nulis namanya 'Ibu Enny Natsir' hi hi hi

5:18 PM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home