This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, June 30, 2006

NOMOR CANTIK ATAU GANTENG...

Kmarin saya dapat tawaran untuk memilih nomor cantik di salah satu mall di Malang. Gratis nomor perdana. Gratis abonemen. Tagihan minimum Rp 25.000. Flat rate untuk GPRS Rp 200.000. Kalau tak salah pernah dijanjikan — semoga benar-benar terbukti — sesama pemanggil selingkungan [bukan selingkuhan] di BTS yang sama akan gratis berhalo-halo. Asyik dong?

Yang saya lakukan pertama kali adalah mengabaikan semua nomor itu, dan menyerahkan kepada si koordinator untuk memilihkan nomor apa saja.

Nomor cantik atau ganteng itu tak penting untuk saya karena semuanya akan berakhir sebagai nama di buku telepon pada ponsel.

Kalau ini terjadi sepuluh tahun lalu, saat sebagian handset cuma menampilkan nomor pemanggil maupun pengirim SMS, mungkin nomor cakep itu berguna.

Kemarin kartunya sudah di meja saya. Tak ada kegirangan berlebihan seperti saat mendapatkan kartu SIM abonemen pertama, yang harganya menguras dompet banget2 dimasa itu. Sudah dicoba? Belum. Keping kartu SIM masih menempel di lempeng gedenya. Dari sepuluh digit hanya empat digit awal kode operator yang saya ingat. Kalau memang cantik mestinya bernomor 081x-x, cuma lima digit, biar gampang diingat oleh siapapun.

Hmmm... kuno. Biarin. Buat saya sebetulnya ada yang jauh lebih penting bahkan utama: seberapapun pendek atau panjang nomornya, bisa dan gampang dihubungi apa nggak? Tentu di dalamnya termasuk cepat merespon atau tidak.

Pecas Ndahe [dia jauh lebih dulu berponsel ketimbang saya] pernah heran, saya menyalakan HP baru pada siang hari sehingga SMS yang dia kirim malam sebelumnya telat saya baca.

Ada kalanya ponsel saya menyala tiga kali 24 jam dan saya bisa dihubungi. Kadang cuma 18 jam, selebihnya adalah flight mode, tetap hidup tapi tanpa sinyal karena saya butuh agenda dan weker. Kali lain saya matikan berhari-hari, bahkan saya pernah lupa di mana menaruhnya.

Tapi sungguh, saya belum bisa seekstrem orang lain, semisal Pakde Totot atau Krisdayanti (halah!!), yang akhirnya memilih tidak berponsel. Di sisi lain saya juga tak ingin seperti teman saya yang punya enam nomor, semuanya aktif, entah berapa jumlah handset-nya karena dia termasuk gadget boy.

Ponsel menyangkut kebahagian, tapi kemutakhiran bukan satu-satunya ukuran. Seorang Mbak Blogger masih pakai ponsel lawas, hibah dari abangnya, berikut nomornya, dan setahu saya tak pernah kehabisan pulsa prabayar.

Ada juga sejumlah mbak yang suka gonta-ganti ponsel, doyan SMS dan halo-halo [tepatnya: dihalo-halo], tapi sering kehabisan pulsa.

"Hemat," kata juragan yang menyubsidi pulsa, "itu baik dan perlu." Saya sekarang berhemat. Pelit tanda tak mampu.

Posted by johan....
hp saya juga super butut .. sampe-sampe dibuat minder sama hpnya baby sitter

Posted by Seno....
ini yang taripnya per detik itu yah? Aku sebenernya pengen banget murahnya, tapi lebih sayang nomor lama nih, udah dikenal luas walaupun mahal abis :(

Posted by lantip....
hape. kita yang beli, kita pula yang diperbudak. *keluh*

Posted by Okol...
di kampungku lebih parah Dek. gadget bagus, nomor cantik, pulsa penuh... tapi ndak ada sinyal...
hmmm... andai saja ada penjual sinyal di daerah2 blankspot hihii...

Posted by topan....
kalau pakai communicator beli pulsanya 20 rb itu hemat gak ya...?
Hemm baru baca u'r blog... gw ktawa ngakak deh =D

0 Comments:

Post a Comment

<< Home