This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Saturday, June 24, 2006

So, What?! emang gw pikirin??

Setahun setengah yang lalu, ketika terjadi gempa-tsunami di Aceh, beramai-ramai orang melakukan berbagai hal atas nama kepedulian. Beberapa waktu lalu, ketika terjadi gempa di Yogya-Bantul, beramai-ramai orang kembali melakukan berbagai hal atas nama kepedulian.

Apa jadinya kalau tiba-tiba diantara kepedulian itu, seseorang berkata: aku tidak perduli. Bodo amat dengan mereka, emang gue pikirin. Kebayang deh, semua orang akan segera mengecam orang tersebut.

Apalagi berani-beraninya menjadikan tempat yang terkena bencana itu jadi lokasi liburan. Turis bencana, gitu istilahnya ya?

Buat aku, miris rasanya ketika orang beramai-ramai perduli pada orang yang tidak dikenal, yang begitu jauh, tapi tidak sanggup perduli pada orang terdekat, orang yang dikenal. Atau bahkan, lebih gampang lagi, bagaimana orang mau perduli orang lain, kalau ke diri sendiri saja tidak perduli?

Apakah bisa, menyayangi orang, ketika ibu/bapak/suami/istri/kakak/adik/anak dalam kondisi yang seharusnya lebih butuh perhatian kita? Atau, apakah bisa menyayangi orang tapi kita tidak perduli bahwa sahabat di samping kita sudah dalam kesusahan yang tidak sanggup lagi dia tahan. Kalau ada pepatah: debu di ujung sana keliatan, tapi gajah di pelupuk mata tidak keliatan, bisa jadi itu berlaku untuk kegiatan tolong menolong. Lebih mudah menolong yang jauh, yang terlihat besar, ketimbang menolong dari lingkungan terdekat.

Apakah berarti, ketika seseorang tidak perduli dengan bencana, maka orang itu adalah orang yang egois dan tidak perduli?

Bahagia kalau memang dimampukan mengasihi orang yang bahkan tidak kita kenal dan jauh dari kita, tetapi coba lihatlah lebih dekat.

PS :
Akhir2 ini, krn kepedulian gw cuma terpusat as long as keluarga inti gua & teman2 yang selamat, gw merasa kaget waktu tahu gua nyaris nggak punya empati sama berita2 bencana di Indonesia. Sementara temen2 gw yang bule malah heboh nanyain...

Kemudian gw juga merasa ironis, krn gw nyaris jadi asisten konsultan reconstruction projects, bencana alam berarti gw dpt pemasukan. At least, spt nggak etis juga menerima gaji tinggi u/ sekadar ngumpulin data di tengah2 masyarakat yang lagi susah. Contohnya kyk Aceh jadi ajang proyek cari duit buat orang2 sipil, gw ngrasa ada peperangan batin konsultan di sana dibayar ribuan dollar sementara orang lokal mungkin nggak punya duit sepeser juga. Tapi di mana benar atau salahnya, ya gw rasa kita lakukan aja apa yang jadi bagian kita dengan niat tulus.
Ahh, pembelaan diri....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home