This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, June 02, 2006

WAWANCARAKU..........



Seorang bapak pulang ke rumahnya setelah dirawat sekian hari di rumah sakit. Seorang wartawan televisi swasta perempuan mewawancarainya pada kesempatan pertama. Eksklusif. Wawancara dilakukan di rumah Bapak di Jalan....jalan mana sajalah, yang jelas bukan Cendana.

Bapak : Alhamdulillah, akhirnya saya sudah di rumah lagi. Sudah tenang lagi. Tak usah khawatir didemo orang. Tak perlu takut dikunjungi daripada yang namanya tamu.

Wartawan : Sebenarnya Bapak sakit apa sih? Katanya permanen? Kok bisa sembuh?

Bapak : Permanen apa? Permen kali, hehehe....

Wartawan : Loh, yang benar bagaimana?

Bapak : Yang benar itu saya cuma mau cari suasana baru. Soalnya saya sudah bosen di rumah terus. Rumah daripada saya ini belakangan mulai bising. Anak-anak ribut melulu. Yang diributin ndak jelas lagi. Masa sinden saja direbutin. Makanya, sekali-sekali boleh dong cari tempat yang tenang. Sepi. Banyak yang melayani lagi. Di rumah sakit saya bisa makan enak, baca koran, nonton televisi. Kalau di rumah, mana bisa? Anak perempuan saya yang paling besar itu pasti melarang saya ini-itu. Katanya biar saya ndak stres. Padahal saya malah stres kalau ndak boleh ini dan itu. Lah dari dulu itu hobi saya memerintahken daripada ini dan itu je.

Wartawan : Tapi kan kalau di rumah sakit harus bayar, Pak?

Bapak : Bayar? Berapa sih? Berapa pun saya sanggup bayar. Uang saya itu meteran, Mbak. Saya buang tiap hari juga ndak bakal habis.

Wartawan : Meteran? Kok seperti tanah saja?

Bapak : Tanah? Saya juga punya banyak, Mbak. Di Jakarta, Bogor, Jogja, Amerika, Swiss....Mana lagi ya, saya sampai lupa.

Wartawan : Punya tanah banyak-banyak buat apa, Pak? Pada akhirnya setiap manusia cuma butuh tanah sepetak. Asal cukup buat badan saja.

Bapak : Wah, sampeyan salah. Tanah itu bukan buat Bapak sendiri. Bapak kan punya anak, punya cucu, punya cicit. Banyak lagi jumlahnya. Mereka itu kan butuh daripada tanah juga. Sampeyan ndak pernah merasaken nikmatnya punya tanah sih?

Wartawan : Saya sudah punya tanah, Pak. Tanah air.

Bapak : Tanah air? Hahaha....Sampeyan lucu, Mbak. Tanah air ini sudah saya jual sejak dulu. Sejak saya menjadikennya milik saya sendiri. Yang lain cuma saya anggap sebagai anak indekos.

Wartawan : Hah? Yang bener, Pak? Ah, Bapak ngarang ya....Ayo ngaku! Ngarang ya? Ngaku.....Ngaku....Nga.....

Tiba-tiba wartawan itu dibangunkan oleh seseorang yang duduk di sebelahnya. "Mbak...mbak...mbak. Bangun, Mbak! Dah nyampe terminal loh. Mbak gak turun ?"

"UUUGGHH!!!"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home