This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Sunday, July 02, 2006

Dari dulu hingga kini....

Kalau Nyonyah Meneer berdiri sejak 1928, tapi dulu kan ndak pake dibungkusi to...
Masi pake ndoprok dibawah pohon jambuh, ngramu jamu peningset warisan nenek moyang-nya...

Lha kuwe2 ini, dari jaman tinta bak sampe print foto canggih, kok ya kuwe2 ini ndak ganti bungkus ya..?? Apa takut pelanggan setia kabur?? Hualah, apa ya masih ada to pelanggan setianya yang pasti sudah kewut2 itu... Yang muda2 jaman sekarang kan lebih ngelirik kemasan yang genjreng, apik dan resik..

Ho ho ho...GOMBAL... aku aja juga beli kok kuwe2 ini...
Justru tertarik gara2 bungkusnya...
Asumsinya, kalo dah turun temurun, pastinya rasanya juga TOP...
Blum lagi sensasi cerita 'aku makan makanan yang dari jaman dulu dah eksis loh'
Oiyah...tengkyuh buat Mas Bara en Mbak Ollie.. Oleh2nya wuenak tenan!!


Lunpia atau lumpia? Sama saja. Maksudnya spring roll. Kita menyerapnya dari bahasa Cina [Hokkian?], dan kaum peranakan di Semarang masih setia dengan "lunpia".

Semarang tak sendirian. Malang juga punya lumpia. Jakarta juga — tapi bumbunya beda. Lumpia semarang [dengan "s" kecil, seperti "y" kecil dalam "gudeg yogya"], terutama yang isi ayam, memang sedap. Dengan lalap daun bawang pedas, wuahhhh. Basah-mentah maupun [apalagi] goreng kering panas, sungguh lezat jadi teman menyeruput teh naga.

Manakah lumpia yang asli, atau menjadi pelopor, Mbak Ollie mungkin bisa bercerita karena korannya pernah menceritakan soal itu. Mas Bara mungkin juga tahu.


Di Semarang ada banyak lumpia — juga banyak merek wingko babat. Bagaimana setiap penyaji membedakan diri, itu sebuah seni. Maka Lunpia Mataram pun mencoba tampil modern, menurut masanya. Nona rambut sebahu, dengan sisiran yang [mungkin] diilhami oleh komik ala Puti Salju H.C. Andersen dan yang mengandersen terbitan Maranatha Bandung tahun 70-an, berwajah agak blasteran [terpengaruh Jan Mintaraga?], hasil olahan gambar manual dengan pena [tinta bak cap Naga?] dan cat air [merek Guitar?] dicetak dengan letter press, menampakkan gurat kasar tapi masih memancarkan gradasi, telah menawarkan sebuah kelezatan nan gurih lagi nyaman. Tak perlu acung jempol. Cukup sebatang [atau selonjor?] lumpia dalam genggaman. Sebuah cara memegang lumpia yang kurang lumrah, tapi siapa tahu mewakili kenyataan saat si model memperagakannya.

Sekarang jawablah Nona, kenapa kau tak mau menatap kami, para pelahap lumpia? Kerlingkanlah barang sesudut ke arah kami.