This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Thursday, July 13, 2006

Ehem..Brondong ituh..ehem skali..



Kemarin, ketika istirahat, ada brondong yang manis. Hey, jangan ngeres dulu pikirannya. Brondong ini adalah jenis makanan. Aku tidak tahu mengapa sekarang istilah brondong bergeser menjadi negatif, ya?

Dulu, waktu kecil, ada juga brondong yang terbuat dari jagung seperti halnya pop-corn yang kita kenal sekarang. Rasanya tidak terlalu manis. Soalnya sang pembuat hanya menambahkan sedikit sekali gula untuk sebagai salut bulir-bulir jagung yang merekah ini. Itu terjadi dulu ketika saya masih SD. Malangnya, saya nggak doyan makanan ini. Nggak tahu kenapa kepala pasti jadi pusing kalau memakan brondong jagung yang rasanya nyaris sepa ini.

Nah, brondong yang saya temukan ini tentu berbeda. Saya menyebutnya sebagai brondong beras. Brondong ini ringan sekali. Salutan gulanya juga banyak, makanya rasanya mantap manis.

Tapi, kenapa mereka mencantumkan makanan ini sebagai “kue”? Kenapa tidak disebut “snack”?

-CoMmEnts-

Jay said...
Kalo melewati Nagreg selain Ubi Cilembu dijajakan juga digantung bermacam-macam Borondong, ada yang sebesar bola pingpong, bola kasti hingga sebesar sofbol.
Borondong adalah Jagong Beledug (popcorn) yang dipadatkan menjadi bola. Gula merahnya yang membuat jagung saling melekat.

Johan said...
kalau pakai kata snack nantinya malah jadi mahal kali mbak..

Hedi said...
padahal itu juga bukan brondong, jipang ya…tapi yang penting enak, apalah arti sebuah nama…hehehe

Okke said...
aku kok geli ama tulisan di bungkusnya itu ya… “sumber bahagia” hehehe… iso2 wae…