This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Sunday, July 02, 2006

MAKANAN MALANG....

Buat pecintah kuliner seperti dirikuw ini...
Pastilah hidup tak merasa lengkap tanpah menyantap makanan asli kota yang saya tinggali 5 taun terakhir ini...

Kripik Nangka, kentang, singkong, telo ungu, aneka mesir2an blah blah blah...
Oohh itu bukan makanan aseli Malang... Sudah mambu teknologi canggih...
Gak seru...

Inilah hasil berburu makanan langka murah meriah di Malang, Labelnya juga ASELI dari jaman dulu kala (Pokoknya bukan Toko Oen, yang amit-amit muahal loh!! Lagian, es krim bukan produk endonesah to..)

KUE KOYA



Ini bikinan Malang, Jawa Timur. Namanya kue koya. Rasanya manis. Berserbuk. Berbahan antara lain kacang hijau. Saya tak tahu sejak kapan ada. Ada yang bilang tahun 60-an sudah ada. Orang Malang mungkin bisa bercerita.

Yang khas dari koya adalah cara mengemasnya. Kue pipih bundar ini ditumpuk lima kemudian dibalut dengan kertas roti. Keunikan lain: dari kemasan sudah terasa aroma oriental, maksud saya Cina; sungguh bukti keragaman Indonesia. Warna merah, buah delima sebagai merek, nama perusahaan, dan tulisan Tau Sa Ko [saya tak tahu artinya; ada yang bisa membantu?]. Sebuah kecinaan yang tak takluk oleh paksaan Orde Baru untuk berganti nama yang "mengindonesia".

Ah, bukankah Indonesia merupakan sebuah adonan? Lebih mudah mengidentifikasi sesuatu itu "asli Jawa", atau "asli Bugis", ketimbang "asli Indonesia".

JUAL PESONA ISTANA


Pamor keraton belum pudar. Terbukti, keraton tak hanya bertahan di pentas kethoprak, tetapi juga rokok [bikinan orang dalam] dan yang terbaru: minuman instan. Dikemas modern, dalam aluminium foil, memakai bar code pula [ini simbol perdagangan masa kini], Keraton Sari Jahe yang mengenal kedaluwarsa ini bisa dijadikan minuman panas maupun dingin. Menurut pembuatnya, cocok pula untuk wedang ronde, susu, kopi, bahkan... santan!

Keraton Jahe ini dari vorstenlanden [Yogya-Sala]? Bukan. Bikinan wong Jawa Wetan, tepatnya Pandan Landung, Malang.

Dengan tambahan ginseng dan gula, sensasi apa yang ditawarkan? Sungguh percaya diri, sekaligus rendah hati, dan mungkin jujur, Usaha Dagang Addi Lestari, produsennya, tak menjanjikan apapun. Tak ada janji gombal rasa maupun khasiat, selain "cocok untuk..." dan "juga nikmat bila..." yang disebut2 diiklan radionya...

Sungguh Jawa modern: kemasan boleh masa kini, tapi teks tak bersombong diri. Ehm, jangan-jangan inilah esensi kepriayian keraton tulen: jangan banyak membual supaya tak menjadi gombal.