This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, July 07, 2006

Why we don't need SUPERMAN*

By : Dina 'Lane'

Rasanya seperti mimpi waktu melihatnya di depan pintu pesawat. Pakaian biru-merahnya yang kebal-segala masih sama. Senyum hangat dan kerlingan matanya juga sama. Begitu juga kriwilan rambut berbentuk ‘S’ yang sempurna di dahinya. Dia kembali. Superman kembali.



Dan seketika, kerinduan saya untuk kembali terbang bersamanya diantara kemerlip lampu kota begitu membuncah: Saya pingsan dengan sukses dihadapan ribuan orang. Tapi toh tak apa-apa. Seluruh dunia pasti maklum. Dia kan naksir saya. Wajar saja jika saya shock berat akibat pertemuan singkat itu.

Namun, saat saya menuliskan ini, ada berjuta pertanyaan di kepala saya. Membuat saya sakit – mungkin sesakit Superman terkena kriptonit. Sudah lima tahun sejak dia tidak berada di bumi dan banyak hal yang berubah. Saya, tidak terkecuali.

Yang saya rasa paling signifikan adalah pertanyaan mengapa. Mengapa Superman begitu memperhatikan saya dan membuat saya pusat dunianya? Seolah-olah, sayalah ‘pekerjaan’ utamanya, sementara menyelamatkan dunia yang carut marut ini hanyalah pekerjaan sambilan. Saya bukan GR, anda lihat saja yang dia lakukan.

Saya tau, saya tidak seharusnya mengatakan ini sementara banyak perempuan di dunia yang mengantri untuk sekedar digendong terbang. Siapa yang tak mau dipuja oleh pria paling perkasa di dunia? Tapi sejujurnya, saya tidak mau. Sebagai wartawan yang memenangkan Pulitzer, saya harus objektif, bukan?

Saya ingin melihat Superman menghentikan perang di Jalur Gaza. Saya ingin melihat Superman mendamaikan Irak dan Selatan Filipina. Saya ingin melihat Superman memberikan kontribusi untuk membunuh kemiskinan di Afrika. Saya ingin Superman menerbangkan bantuan makanan ke Yakuhimo, Papua. Saya ingin melihat Superman menghentikan pemanasan global dan menanami lahan gersang dengan pohon segala. Saya ingin melihat Superman kampanye tentang AIDS dan bukannya punya anak dengan saya sebelum menikah.

Terlalu banyak beban yang disangga dunia. Dan jika Tuan Superman memang begitu luar biasa, saya berharap dia bisa melakukan semuanya.

Tapi tidak. Dia hanya peduli pada dirinya. Pada Lex, musuh bebuyutannya yang mencuri peninggalan ayahnya. Pada kerahasiaannya yang tolol, dan rambutnya yang tidak pernah rusak meskipun ia terbang lebih cepat dari cahaya. Saya lebih suka Harry Potter yang berambut acak-acakan, tapi terlihat lebih manusia. Setidak-tidaknya Harry punya sahabat-sahabat yang setia dan ia percaya pada kata ‘kerjasama’. Buka one-man-show yang aneh dan berkesan narsis.

Saya rasa, lima tahun sejak kepergiannya, standar saya akan manusia super sudah berbeda. Saya lebih percaya pada utusan khusus PBB yang bernegosiasi dengan junta militer Burma untuk membebaskan Aung San Suu Kyi, ibu kita. Saya lebih percaya pada Luigi yang rela tinggal di Liberia. Saya lebih percaya pada teteh Popon yang bekerja mengembalikan korban tsunami pada kehidupan semula. Saya lebih percaya pada Okke yang dengan tulus pergi ke Jogja.

Saya rasa, kita tidak butuh SATU mahluk luar biasa yang bisa terbang, bisa mengeluarkan laser dari mata, bisa menahan peluru, atau bisa memandang menembus tembok. Yang kita butuh adalah BANYAK manusia-manusia biasa yang punya hati tulus, yang punya kemauan besar untuk menolong sesama. Manusia-manusia yang bekerja sama, menggabungkan keahliannya untuk membuat dunia menjadi tempat yang sedikit lebih layak untuk dihuni.

Kita tidak butuh fantasi. Kita butuh karya.

Saya harap, anda tidak terlena karena Superman, sang manusia baja sudah kembali ke tengah-tengah kita. Karena, saya percaya, setiap manusia punya kekuatan ‘super’ yang sangat istimewa. Dan itu bisa mengubah dunia.

*Catatan usai menonton film Superman Return nan garing gerontang. Saran saya, kalau anda melihat antrian panjang orang yang mau nonton Superman, abaikan saja. Lebih asik nonton ‘Cars’, mobil-mobilnya jauh lebih manusiawi dan mengharukan. Saya aja merasa beruntung, soalnya nonton Superman ditraktir sama Bobby. Tapi kasian juga si Bobby, menghabiskan duit menraktir saya untuk film macam ini. Nanti kita nonton film yang lebih oke ya Bob!