This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, August 29, 2006

BERNAPAS DALAM LUMPUR...

Liburan? Liburan dari Hongkong?? Meski dihibur dengan fasilitas nyaman nginep di majapahit, niat liburan akhirnya tak terpenuhi... Siyaall aku kesel banget... yeah yeah, akibat ledakan dan luberan lumpur sidoarjo yang makin menggila...akhirnya si Boss batal pergi ke Bangkok dan memutuskan ke Surabaya... Hik hik merana oh meranaa...

Aku pun berangkat menjemput si Boss dengan muka lipet tujuh... Dan saat bertemu di lobby juanda,dengan prihatin my Boss ask me 'are u okay?'. Uughh!!! Pengen ngelempar sepatu nggak sih??? Dalem hati aku berkata: untung lo cakep, bos! Ehehehe…

Meski di Surabaya, blio tetapharus nulis brita tentang si Ramsey Bangkok itu... Dan thats not my job!! So, dengan tampang ga tega (yang sangat palsu hi hi hi) dan tanpa dosa, aku bilang sama bos-ku kalo aku mau hang-out sama teman-teman dan aku mempersilahkan dia bekerja sendirian, hehehehe…

Aku berangkat ke kantor AJI yang dekat dengan gerbang universitas Airlangga. Ketemu mas Taufik, mas Sunu, Mas Untung (yang ini di-BKO dari Jakarta untuk liputan lumpur!) dan teman-teman baru lain. Kami makan di pinggir jalan, makan iwak pe (ikan pari) yang enak banget sambil ngobrol. Mas Revo – wartawan tv7 yang juga temannya Dian sahabatku – juga dateng. Dian menyusul, dan kami hang-out sampe jam 12 mlm.

Habis itu pulang deeehh...(iddihh kalo malem, hotelcantik ini kok serem banget ya?). Usai mandi dan siap-siap untuk tidur, bos-ku menelpon sekitar jam setengah dua. What??? Ternyata kantor memutuskan dia HARUS terbang ke Bangkok. Oh no…. udah capek-capek ke Surabaya, kok batal seehh???

Aku jadi jatuh kasihan sama bosku. Aku akhirnya menyuruh bosku istirahat dan aku akan membangunkannya jika aku bisa mendapatkan tiket. Jadilah semaleman aku bekerja mencari tiket ke Bangkok, mencari fixer di bangkok, mencari hotel dan meng-arrange mobil. Ada pesawat pagi jam 7.45 ke Bangkok dari Jakarta, tapi bosku harus terbang dari Surabaya jam 5 pagi. Artinya, jam tiga lewat, ia harus sudah berangkat dari hotel.

Rasanya baru aja memejamkan mata waktu telepon di kamar bunyi. Sial, masih jam 7 dan aku baru tidur 2 jam. Ternyata itu driver yang memang sebelumnya disuruh siap-siap jam setengah delapan. Tapi, kenapa driver ini sok akrab banget yak. Coba dengar percakapan telepon di tengah pagi itu:

Driver: Buuuuu… ini saya, driver.
Aku: oh iya pak.
Driver: Saya menunggu ibu di depan yaaaa… Saya pake kemeja biru muda dan celana biru tua.
Aku: iya pak tunggu saya, mungkin satu jam lagi…
Driver: Nggak susah kok bu mencari saya….
Aku: iya… pak.. i..
Driver : (dengen keukeuh memotong kalimat ku) Wajah saya mirip herman ngantuk…
Aku: ha?
Driver: iya bu… wajah saya mirip herman ngantuk.
Aku: Aduh, pak.. herman ngantuk itu siapa?
Driver: itu loh buuu…. Pemain sinetroooon….
Aku: … speechles saking mati gaya-nya…


Aku kembali tidur dengan dongkol. Sebodo kalo dia nunggu. Sakit jiwa!

Setelah mandi dan sarapan, aku mencari driver yang ternyata bertampang… emmm… gitu dehh… di lobby hotel. Ini driver emang ternyata sakit jiwa beneran. Jangan suruh aku cerita kelakuannya deh, nanti tanduk ini keluar lagi! Yang pasti, aku akhirnya menyerah dan menyuruh dia parkir dan aku naik ojek kemana-mana, plus complain ke perusahaan penyedia mobil tersebut.

Menjelang tengah hari, kami menuju pusat semburan lumpur melalui jalan desa Siring. Desa itu baru minggu lalu kebanjiran lumpur akibat tanggul jebo. Bau sulfur meruap tajam. Panas matahari membakar. Lalu lalang truk berisi tanah untuk meninggikan tanggul yang lewat di jalanan menebarkan debu yang membuat paru-paru rasanya mamped. Daerah perumahan itu terendam lumpur. Pohon-pohon terlihat mati, atau setidaknya sekarat, daunnya berguguran (sebenarnya keren juga sih kalo dipoto...)

Aku lantas masuk ke daerah proyek, untuk melihat pusat semburan. ‘Lubang’ brediameter sekitar 20 meter itu terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan tol. Lumpur panas seperti mendidih keluar dari lubang itu, menciprat-ciprat kesana-kemari. Asap putih tebal membubung ke angkasa. Dalam ‘danau lumpur’ itu, terlihat beberapa pabrik tenggelam, menyisakan atap saja. Tiang listrik dan tiang lampu juga hanya bisa dilihat ujungnya.

Well…



Aku kok tiba2 jadi mati gaya ya? Speechless. Udah ah segitu aja ceritanya. Dadahhh…