This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Monday, August 14, 2006

Blog Ahmadinejad


Bahkan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pun kini mempunyai blog pribadi. Jadi, siapa yang bilang blog itu cuma trend sesaat? Eh, memangnya ada ya yang pernah bilang begitu... *lirik kiri-kanan*.

[merdeka atau nge-blog]

Barang siapa saja yang belum mengenal blog, marilah kita bertamasya sejenak ke wilayah Persia dan berkenalan dengan pemimpin negeri itu: Mahmoud Ahmadinejad. Ahad kemarin dia memperkenalkan situs barunya yang beralamat di sini.
Lewat blog pribadinya itu, Tuan Presiden memulai sebuah tradisi yang baik di negaranya. Tradisi tentang komunikasi dan keterbukaan. Memang dia bukan yang pertama. Presiden Endonesah lebih dulu memulainya ketika membuka situs pribadi -- dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tapi, blog Tuan Ahmad tetap punya keunikan. Dari blognya itu setidaknya kita tahu, dia dari jenis yang menyimpan rasa humor.

Ditulis dalam tiga bahasa -- Inggris, Prancis, dan Arab -- blog itu memuat tulisan pertama Ahmadinejad tentang masa kecilnya. Ada juga tulisan mengenai kritiknya kepada Amerika Serikat yang berperang melawan Iran pada 1980-1988, ketika Ahmadinejad menjadi anggota pasukan Garda Revolusi. Di akhir tulisan sepanjang 2.000 kata itu, Tuan Presiden memberi akhiran dengan jenaka, "lain kali, saya akan mencoba menulis lebih ringkas dan sederhana."

Aha! Ahmadinejad ternyata sadar bahwa menulis di ranah maya sungguh berbeda dari ranah nyata. Ada pakem-pakem yang harus ditaati. Ia tahu tak semua orang mampu berlama mengakses jaringan maya. Ia paham tak semua orang suka atau setuju dengan pendapatnya -- sebuah cermin dari sikap rendah hati. Karena itu, ia tak perlu berpanjang-panjang dengan kata.

Saya jadi tergoda membandingkan-bandingkan blognya dengan milik koleganya di negeri antah berantah. Blog yang masih memajang teks-teks pidato bertele-tele -- sebuah situs yang maunya mengajak kita senantiasa "bersama-sama bisa."

Merdeka!