This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, August 29, 2006

Pay My Love

Sebaiknya ini dibuat anonym saja. Soalnya, masalahnya sensitip. Iyah, pake ‘p’. Duit, bo… duiiittt!*


Dia datang dengan gaya metropolisnya – as usual! Bercerita panjang lebar tentang pacar barunya – yang walaupun tidak cakep, tapi baik hati lagi tidak sombong. “Kamu musti ktemu ketemu dia, yaaaa….” katanya memaksa. Aku mengiyakan. Karena aku ikut senang dia punya pacar baru.

Aku senang karena dia sudah ‘terbebas’ dari pacar lamanya. Sudah sejak setahun lalu aku berusaha ‘menyadarkannya’ untuk putus saja. Tidak. Aku bukan jenis orang yang suka ikut campur urusan orang. Tapi ini kasus khusus: pacarnya hobi berkata-kata kasar. Kekerasan verbal. Tidak penting ya?

Tapi apalah dayaku. Meskipun sahabatku ini adalah ‘orang paling realistis sedunia’, untuk kasus satu ini dia menggunakan logika yang benar-benar aneh. Katanya: “pada dasarnya dia orang baik, dan hubungan ini sudah berjalan lama. Cukup lama untuk tidak memutuskan sesuatu dengan gegabah.” Beuhh…. Gegabah! Dari Hongkong! Aku tidak memberikan toleransi kalau sudah bicara kekerasan – fisik maupun verbal.

Nah, setelah sekian lama berusaha membujuk, akhirnya aku lega, dia sadar juga dan putus dari pacaranya. Tapi eits… ternyata! Itu bukan karena hasil bujukan sayah sodara-sodara!

Jadi, pada suatu hari, mereka ribut. Dan ‘seperti biasa’ bertebaranlah itu kata-kata yang teramat-sangat-tidak-layak-banget untuk ditujukan kepada seorang perempuan terhormat seperti sahabatku. Nah, biasanya, setelah itu mereka bakal ‘rujuk’ karena ada yang minta maaf. Tapi, kali ini tidak. Tau sebabnya?

Sang mantan pacar menyodorkan kertas selembar. Isinya: daftar hutang sahabatku selama dua tahun pacaran. Ha???? Apaaaaa???? (ini adalah reaksiku mula-mula, setelah itu aku tertawa sambil guling2 di tempat tidur!)

Parahnya, sahabatku merasa dia sudah banyak banget membantu sang mantan pacar dalam hal financial. Kok tiba-tiba malah disodori daftar utang. “Masak ya,” kata sahabatku, “Ada tulisan ‘untuk obat – 35.000’. padahal perasaan gw gak pernah sakit dan minta dia beliin obat deh!” nah, lo? Ternyata ya sodara-sodara, pada suatu ketika sang mantan pacar sakit, dan dia meminta sahabatku membelikan obat. Tapi karena sahabatku sedang punya duit pas-pasan di dompet, jadinya ya si mantan pacar beli sendiri, tapi bilang: “Ini dihitung kamu utang ya, sayang…” WALAH!!!! (untuk yang ini aku guling-guling di tempat tidur sampe hamper nangis!)

Jadi yahh… umumnya ‘utang’ yang ada di daftar itu sebenarnya adalah ‘kebutuhan’ sangan mantan pacar, tapi karena sesuatu dan lain hal sahabatku sedang tidak bias membelikan sehingga dibeli pakai duit si mantan pacar, dan pada akhirnya itu terhitung utang. Aneh kan?

Mau tau semua ‘hutang’-nya berapa? Rp. 3,000,000. yak. Tiga juta rupiah. (siapa yang gak ketawa sampe gila kalo begini?). Sampai sekarang, masalah ini belum terselesaikan. Tapi aku usul ke sahabatku, kalau dia juga harus menyodorkan ‘daftar yang sama’. Misalnya aja, ada item seperti ini: ‘makan bakso di warung dekat rumah tanggal 14 February 2004’. Hahahah… makin parah kali ya????

Anyway… Kenapa ya semuanya harus pakai hitung-hitungan? Sampai sekarang, itu tidak masuk dalam logikaku. Nyodorin daftar utang gituloh! Bener-bener ridiculous! Bukannya biasanya cowok itu suka ‘sok gengsi’ kalau dibayarin sama cewek? Aku pribadi, tidak akan keberatan untuk berbagi billing dinner atau membeli tiket bioskop sewaktu kencan. Dan terus terang, cowok yang nggak bayarin aku sewaktu kencan tidak serta merta aku anggap tidak gentleman. Tapi tetep aja, bagiku mantan cowok sahabatku itu keterlaluan!

Menurut sodara-sodra sekalian gimana?

-15 comments-

adooohhh... itu orang gila!!!!!!
gw pernah dating orang gila juga, tapi ternyata ada yg lebih parah lagi!
Posted by lenje | 5:37 AM

wah ... cowo sinting ... ga sia-sia dech temenmu putus dari dia ... :P
Posted by qq | 9