This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Monday, August 14, 2006

SOKLAT


Setiap kali saya mempertontonkan raut bengong saya karena gumun, terheran-heran dengan sesuatu, seorang teman selalu berkata "... waaaah jan ndesit tenan kon iki, ora tau mangan soklat!" (waaaah bener-bener kampungan kamu ini, ndak pernah makan coklat!). Lha apa hubungannya antara ndesit sama mangan soklat toh ya? Toh coklat sekarang ada di mana-mana,Mulai gambar jago gepeng, segitiga ber cap Toblerone, hingga yang silinder pendek seperti truffle-nya Godiva ber cap Harrods (walaupun ndak ada rasa truffle/jamurnya). Soal selera ... bisa pilih dari yang kelas warung hingga yang kelas Callebaut, Amedel atau Knipschildt sekalian. Ini bukan soal salah atau benar, ini soal selera (dan daya beli) saja, dan saya akan cerita soal emut-emutan ini.

Saya bukan penggila coklat, suka sih iya (banget) tapi ndak "nagih" dan lagi pula terlalu banyak nyantap coklat badan saya bisa melar sak melar2nya. Ketertarikan saya akan coklat dimulai setelah membaca cerita fiksi "The Discovery of Chocolate" karangannya James Runcie. Buku yang tidak terlalu tebal ini menceritakan kisah Diego de Godoy (seorang conquistador anak buah Henando Cortez) yang kepincut Ignacia, gadis Indian Aztec. Ceritanya sih enteng-enteng saja, cinta cintaan gitu dah, tapi saya malah tertarik dengan cerita coklatnya. Sejak itu saya mulai baca-baca soal coklat, dan sebuah kisah luar biasa ternyata ada di sana.

Mulai dengan dari mana datangnya coklat. Tidak ada perdebatan soal ini, coklat berasal dari Amerika Tengah dan sejarah coklat tak bisa lepas dari sejarah bangsa Indian Amerika Tengah yang sudah bercokol di sana sejak kira-kira lebih dari 1500 tahun sebelum Masehi. Dari nama-nama suku Indian yang bermukim di tempat itu seperti Olmec, Zapotec, Maya, Teotihuacan, Mixtec dan Aztec, coklat tidak bisa dipisahkan dari Maya dan Aztec, dua suku di mana coklat adalah kehidupan mereka.

Bukti-bukti kuat yang ada menunjukan bahwa Maya adalah penenggak coklat pertama. Sebuah wadah minum tua suku Maya yang berumur lebih dari 2600 tahun dari Rio Azul di bagian Utara Guatemala diketahui mengandung sisa-sisa coklat. Orang-orang Maya menamai minuman itu xocolatl. Dari cerita-cerita Maya diketahui bahwa mereka menyiapkan minuman ini dengan menuang cairan coklat sambil berdiri ke wadah yang ditaruh di tanah. Tidak seperti minuman coklat yang kita kenal sekarang, xocolatl bentuknya lebih kental, berbusa dan pahit. Xocolatl bisa dibilang menjadi "makanan" utama orang-orang Maya, dihidangkan untuk sarapan, makan siang dan makan malam bersama dengan madu, cabe dan jagung. Dalam masyarakat Maya coklat dikonsumsi oleh semua kalangan. Orang-orang Maya bahkan menjadikan biji coklat sebagai uang. Empat biji bisa ditukar dengan labu, sepuluh biji bisa dapat kelinci dan seratus biji bisa beli budak.

Hanya saja, berdasarkan analisis linguistik, kata xocolatl bukanlah kata asli Maya, itu berasal dari bahasanya orang Olmec, suku yang lebih tua daripada Maya. Beberapa peninggalan Olmec juga menunjukan adanya penggunaan cairan suci dalam upacara-upacara keagamaan mereka, cairan yang dipercaya sebagai coklat. Siapapun penenggak pertama coklat yang saat ini jelas tampak adalah betapa pentingnya coklat dalam kebudayaan Indian di Amerika Tengah, khususnya Maya dan Aztec.

Keluarnya coklat dari tanah asalnya dimulai dari kedatangan Colombus ke wilayah itu pada saat ia sedang mencari jalan menuju tanah rempah-rempah. Pada kunjungannya ke-empat di tahun 1502, untuk pertama kalinya Colombus mendapatkan biji coklat yang dikiranya biji almond pada saat dia merampok sebuah perahu Indian yang memuat biji coklat di dekat sebuah pulau di lepas pantai Honduras. Tak pernah terlintas dalam benak Colombus jika biji itu adalah alat pembayaran yang sah di kawasan itu, tak juga terlintas dipikirannya bahwa biji itu juga adalah bahan dasar minuman yang penting di kawasan itu. Hanya saja Fernado, anak Colombus, yang kemudian menulis keheranannya bagaimana para Indian itu memperlakukan biji coklat, " ... mereka memunguti dengan segera setiap biji yang jatuh, seolah-olah yang jatuh itu mata mereka sendiri ...".

Perkenalan Eropa dengan coklat baru terjadi dua puluh tahun kemudian ketika Hernando Cortes sang conquistador pemusnah Aztec membawa beberapa peti biji coklat (Cacao) ke Spanyol. Tiga tahun sebelumnya, Cortes diperkenalkan dengan minuman pahit oleh raja Aztec, Motecuhzoma Xocoyotzin, yang dalam Bahasa Aztec disebut chocolatl yang merupakan campuran coklat, cabe, bunga-bungaan, vanilla dan madu. Pada saat Cortes kembali ke Spanyol pada tahun 1528 kapal-kapalnya dipenuhi dengan biji coklat dan alat-alat pembuat minuman coklat.

Begitu masuk ke Spanyol, coklat menjadi minuman para bangsawan dan orang-orang kaya. Biji coklat dan alat-alat pembuat minuman coklat disembunyikan di biara-biara Spanyol dan selama seratus tahun rahasia pembuatan coklat dijaga rapat sebelum akhirnya Antonio Carletti, seorang pengembara berkebangsaan Italia menemukan rahasia coklat pada tahun 1606 dan sejak itu coklat tersebar ke seluruh Eropa. Tak buruh waktu lama sebelum coklat kemudian dikenal luas di Perancis, Inggris, Belgia, Swiss dan beberapa negara lain dan biji coklat lantas ditanam di perkebunan-perkebunan negara jajahan mereka. Monopoli Spanyol berakhir sudah.

Perancis pada awalnya menganggap coklat sebagai hasil dari kebudayaan terkebelakang dan minuman yang berbahaya, hingga Ratu Anne yang merupakan istri dari Louis XIII memproklamirkan coklat sebagai minuman resmi Kerajaan Perancis. Inggris lain lagi, coklat langsung populer dan Kerajaan Inggris menetapkan pajak yang gila-gilaan tingginya untuk biji coklat ... pajak per pon biji coklat kira-kira sama dengan harga tiga per-empat pon emas. Tidak heran jika coklat kemudian dikenal sebagai minuman para kalangan atas.

Tetapi orang yang paling berjasa membuat coklat menjadi makanan dan minuman dengan harga terjangkau adalah seorang Belanda bernama Coenraad Johannes van Houten yang pada tahun 1828 menemukan alat untuk mengekstrak minyak/lemak biji coklat. Residu kering dari proses ini kemudian dihaluskan sehingga menghasilkan coklat dalam bentuk bubuk dan tinggal digrujug air panas saja, jadilah minuman coklat. Van Houten kemudian menemukan cara untuk mengurangi keasaman dan rasa pahit dari coklat dengan menggunakan alkali. Teknik yang mirip kemudian digunakan oleh Joseph Fry dan John Cadbury dari Inggris untuk menghasilkan bubuk coklat dan tidak hanya itu, perasan biji coklatnya yang menghasilkan lemak coklat (cocoa butter) lantas diproses lebih jauh dan menghasilkan coklat yang bisa dimakan. Coklat bukan lagi hanya bisa diminum tapi juga bisa diemut-emut.

Adalah Heinrich Nestle, seorang berkebangsaan Jerman, dan Daniel Peter, yang berkebangsaan Swiss, mencampur coklat dengan susu sapi, tepung gandum dan gula. Ini menjadikan coklat memiliki rasa yang mirip dengan coklat yang kita kenal sekarang, coklat susu, walapun tujuan awal Nestle pada saat itu adalah untuk mendapatkan produk untuk membantu bayi-bayi yang kekurangan gizi karena ibu sang bayi tak mampu menyusui bayinya.

Coklat batangan yang kita kenal sekarang proses pembuatannya ditemukan oleh orang Swiss, Rodolphe Lindt, dengan menyempurnakan teknik yang ditemukan oleh para pendahulunya. Dia lantas mencampurkan kembali lemak coklat hasil ekstrak biji coklat dengan coklat bubuk dan hasilnya, coklat batang yang getas, bisa dipatahkan, tetapi meleleh di dalam mulut.

Coklat, biji buah yang pernah menjadi alat tukar, diminum dan sekarang juga dimakan. Coklat, entah itu dalam bentuk bubuk atau batangan, bisa ditemukan di mana-mana. Coklat bukan lagi hanya dinikmati oleh orang-orang Olmec, Maya, Aztec dan Eropa, coklat sudah menjadi produk dunia. Saat ini gabungan dari negara-negara Pantai Gading, Ghana, Brazil dan Indonesia, menghasilkan sekitar 75% biji coklat dunia. Tetapi para petani coklat di negara-negara tersebut hanya menikmati 5% keuntungan dari perdagangan coklat dan sebagian besar biji coklat itu diolah menjadi produk jadi di negara-negara utara. Tak kurang dari 80% pasar coklat dunia dikuasai oleh enam perusahaan besar dan lima diantaranya adalah perusahaan dari Eropa (Nestle, Suchard, Mars, Cadbury dan Ferrero) dan satu dari Amerika Serikat (Hersey's).

Coklat yang pahit-pahit manis itu dalam perdagangan dunia saat ini masih menyisakan banyak kepahitan, terutama bagi para petani coklat di negara-negara tropis di mana pohon coklat bisa tumbuh subur. Kepahitan yang juga dialami oleh para pekerja anak di kebun-kebun coklat yang nyaris berada dalam kondisi sebagai budak. Sebagian besar kemanisan coklat hanya dinikmati oleh para produsen besar coklat yang semua ada di belahan bumi utara. Di Pantai Gading yang menjadi produsen biji coklat terbesar di dunia ada sekitar 600 ribu kebun coklat dan di sana tidak kurang dari 15 ribu anak bekerja sebagai budak, kebanyakan dari mereka berasal dari Mali yang terletak di sebelah Utara Pantai Gading.

Jadi sederek sedoyo, walaupun van Houten sudah menemukan cara untuk menurunkan rasa pahit pada coklat, tampaknya rasa pahit itu ya belum juga hilang. Masih kurang pahit? Tanggal 13 Agustus kemarin adalah "hari ulang tahun" ke 485 jatuhnya Kerajaan Aztec yang memperkenalkan coklat kepada dunia melalui Spanyol. Begitulah cerita coklat. Hanya sampai sekarang saya tetap belum ngeh, apa hubungan antara ndesitnya saya dengan ora tau mangan soklat itu. Sampeyan ada yang tahu?

PS : Data artikel ini dari sini dan sini loh!!