This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Thursday, September 14, 2006

A HAPPY DUCK...

Kami, saya dan Pohan -sahabat saya-, sedang memandang foto Ida Royani, salah satu karya dalam pameran foto Kartono Ryadi. Foto hitam putih itu bagus sekali.

“Kapan-kapan bikinin Dina yang kaya’ gini ya Poo,” ucap saya
Pohan belum menjawab. Ia memandang foto Ida Royani di tembok, lalu ganti memandang saya, melihat foto Ida Royani kembali, dan melihat saya.
“Bisa dong,” kata saya
- Jadinya mesti lain Na, bentuk tulang pipi Ida begini, belum matanya, terus hidung, terus …,” Pohan menyudahi ucapannya.
Saya menahan pingkal. Pohan juga. Berdua akhirnya kami tergelak.

Foto itu bisa sedap dipandang mata bukan hanya ditunjang oleh sudut pengambilan gambar yang tepat oleh almarhum Kartono Ryadi, tapi juga karena wajah Ida Royani, model dalam foto itu memang menarik, cantik.

Saya tahu ke arah mana pembicaraan kami, saya dan Pohan, itu akan bermuara. Secara tidak langsung Pohan sebenarnya ingin mengatakan kalau akhirnya ia memotret saya dengan teknis yang sama, hasil foto tetap tidak akan sama.

Kenapa?

Bentuk muka saya bulat. Saya curiga semua nutrisi yang dihasilkan dari makanan yang sehari-hari saya santap pasti berkumpul di wajah saya. Sebab apa? Ini loh, pipi saya kian hari rasanya kian buled saja.

Dari bentuk muka mari membicarakan bentuk hidung. Kalau saja ada suku hidung terong, saya pasti sudah didaulat menjadi ketua sukunya . Bagian ini yang paling sering mendapat koreksi kalau wajah saya dipasrahkan pada penata rias. Dan dibuatlah dua garis memanjang di sisi kiri dan kanan hidung, gunanya agar hidung saya tampak ramping kalau dilihat dari kejauhan. Catat ya, melihatnya dari kejauhan saja. Kalau dilihat dari dekat, hidung saya ya tetap saja gede. La wong memang dari sananya begitu

Sudah bermuka bulat plus hidung gede, saya memperparahnya dengan berat badan yang bertambah. (Bukan berarti perempuan gemuk itu tidak bisa masuk dalam kategori cantik dan menarik ya, saya percaya kategori cantik tidak hanya milik kaum bertubuh ramping saja).

Soal menjadi sedikit lebih gemuk ini, saya punya cerita lain. Ketika melintas di sebuah plaza dekat kantor tanpa sengaja saya bertemu dengan teman lama saya. Dulu, di kelas dua SMA, ia duduk di belakang saya. Saya sudah tersenyum dari kejauhan, tapi teman lama ini tidak membalas senyum saya. Saat jarak kami semakin dekat, ia akhirnya tertawa.

- Ya ampun, Dina?, aku pikir siapa-
“Pantes dari tadi aku senyumin kamu diem aja”
- Ih kamu kok gemuk gini sih? dulu kan cungkring banget
Hahahaha. Spontanitas teman lama saya itu patut diacungi jempol.

Jadi, inilah saya. Muka bulat, hidung gede, dan menjadi lebih gemuk. Tak apalah. Yang penting saya sehat, bisa beraktivitas, juga mengerjakan beragam hal menyenangkan. Jujur, keyakinan macam ini kadang-kadang mengendur saat dihadapi derasnya serbuan dari media, yang isinya disemarakkan oleh perempuan-perempuan dengan postur nyaris sempurna. (maklumlah, saya kan juga manusia biasa).

Dan kadang-kadang keluarlah perkataan semacam ini :

Aduh, mesti enak banget kalau punya muka mirip Dian Sastro, cantik banget gitu loh.
Kulitnya dong bo diliat, mulus banget
Ih, rambut susah amat sih diaturnya, coba panjang, hitam, dan tebal

Inilah saya. Jelas jauh dari Dian Sastro, tak punya tulang pipi sebagus Ida Royani, atau rambut legam seperti Titi Kamal. Yang saya punya ya ini, muka bulat, hidung rendah, dan menjadi lebih gemuk. Kalau dunia ini adalah sebuah kolam besar, di mana angsa dan itik ramai berenang ke sana dan ke mari, saya pastilah si itik itu

Si itik ini sesekali masih berolah raga. Itik yakin itu tak akan mengubahnya menjadi angsa. Olah raga baik untuk kesehatan, kalau kurus anggap saja bonus. (meski sampai sekarang berat badan tetap saja tak turun-turun. ha-ha-ha). Itik tetap pergi ke dokter kulit, lagi-lagi bukan untuk mengubahnya menjadi angsa. (Pekerjaan dan kulit muka si itik rasanya tidak pernah rukun, memaksa si itik bekerja ekstra keras untuk menghalau jerawat nakal dan muka kering kerontang).

Jadi, inilah saya. Kalaupun saya itik, saya mau jadi itik yang berbahagia dengan segala yang ia punya, termasuk muka bulat dan hidung rendah ini


-CoMMeNtS-

Silverlines Says:
Beauty comes from within, I believe ..
Selama jadi orang yang menyenangkan, semua perempuan jadi cantik, rasanya …
Pertanyaannya sekarang, apakah kita cukup menyenangkan untuk orang lain ?

loucee Says:
saya sungguh percaya bahwa kecantikan dari dalamlah yang membuat kita terlihat lebih cantik di luar. good skin, perfect bone structures, etc… it’s only facade, dear… suatu hari facade itu akan hilang dimakan waktu, but a beautiful soul? it’ll be remembered not only in people’s minds but also in their hearts.

cj Says:
hmm… semua cewek keknya cenderung punya keluhan/ketidakpuasan dg penampilannya. tapi apakah artinya kita tidak cantik? nggak perlu jadi dian sastro atau ida royani untuk menjadi cantik, kan… we have our own qualities, Na!
oia… seneng banget bisa ‘bertatap muka’ eh ‘menatap muka’ ma Dina!

AleX Says:
Sapa bilang Dina gak cantik ? sini…tak kemplangi klo ada yang berani bilang gitu di depan gue…:D
dina itu cantik, manis, moyy -lah pokoke, taaapi….bawel mak…gak kukuh deh dengerin dia klo udah berkicau..:))

q2 Says:
hmm.. kalau kamu kaya dian sastro.. pasti gak mau kenal sama gw..
*eh tapi.. dian sastro kan kenal ama nicholas saputra ya? * ekekeke..
hey.. anak muda… kamu berhutang cerita ya.. awazzz….

Yaya Says:
beauty inside is more important

mita Says:
halo, salam kenal, saya juga itik buruk rupa yg bahagia , belum lama seorang teman lama komentar begini: aduh, elo kok lama bener sih jadi itik buruk rupa, kapan berubahnya? teman2 lain sudah berubah jadi angsa cantik, elo teteep aja begini

ti2n Says:
dear Dindin… aku setuju denganmu, kecantikan wanita tak hanya dilihat dr badan yang ramping saja….
inner beauty, itulah kecantikan yang akan kekal abadi.., dibanding dengan keelokan fisik semata…

SyL Says:
tunggu mbak syl pulang, ta……
kita photo hunting bareng ya

rizal Says:
itu yang di pic pohan kmaren juga cakep Dulu seorang teman bilang: cakep waktu muda itu kecelakaan sejarah. Kalau dipikir-pikir, benar juga

intanKd Says:
senang sekali bisa melihat Dina,
senang sekali bisa melihat senyumnya
senang sekali bisa melihat kegembiraannya,
senang sekali melihat wajah yang menyenangkan ini:)
meski baru sekali ketemu, udah terkangen-kangen deehh...

nurul Says:
cakep dan gak nanti kalo udh jadi kakek2 dan nenek2 juga keriput hihi..
Din, gw ketawa banget pas bagian ini:

Sudah bermuka bulat plus hidung gede, saya memperparahnya dengan berat badan yang bertambah. (Bukan berarti perempuan gemuk itu tidak bisa masuk dalam kategori cantik dan menarik ya, saya percaya kategori cantik tidak hanya milik kaum bertubuh ramping saja).

haha..iya sekarang gitu, kl ramping dan putih pastinya disebut cantik, makanya tuh iklan ponds nyebelin!

astri Says:
mbak Din. dian sastro pasti akan iri sama mbak, karena meski dia cantik, berhidung mancung, dan berkulit mulus.. dia gak punya lesehan dan senja. Yang menampung begitu banyak kasih sayang untuk mbak Dina, menghangatkan hati dan memeriahkan hidup… iya kan?

tegar Says:
you so prety … the way you are…

pipit Says:
semua perempuan itu cantik Na. apalagi kalau banyak senyum

Ehm Says:
Wow .. dari tulisan ini ..aku kok ngerasa baru dapat sisi dina yang lain .. Putri Dina yg penuh kedewasaan .. duh …

Nita Says:
Kadang gue juga suka gitu deh.
“Biarin deh ngga langsing, yang penting happy”
Tp tetep aja, stiap dibilang ‘gemuk banget’, ’sehat banget’, dll yang sejenisnya.. jatohnya ya bete2 juga..
Runtuh deh teori inner beauty lah, asal bahagia lah, dll.
Tapi kadang-kadang loo… hihihi

doeljoni Says:
beli coklat karena pengen makan coklat
bukannya naksir bungkus coklat
tul gak ?

siwoer Says:
yo wis, gimana kalo jadi tak panggil Dina Sastrowardoyo saja? sipkan?

doverwhite Says:
Dina, rasa-rasanya Dian Sastro dan Titi Kamal deh yang bakal iri sama dina.. Nggak perlu cantik untuk bisa punya banyak teman yg mengagumi, nggak perlu kulit mulus supaya bisa dekat dengan orang lain disekitarnya, nggak perlu rambut hitam legam spy bisa punya tulisan yg menyentuh.

coba bayangin deh, Na.. kalau Dina kehilangan hidung yg sekarang, atau kulit yg sekarang dll. Dina bakal tetap Dina. bakal tetap punya teman, bakal tetap ramai blognya, bakal tetap dikagumi tulisan2nya. Tapi kalau Dian Sastro atau Titi Kamal kehilangan itu semua penampilan fisiknya, kira2 bakal jadi apa?
Apa gak jadi kehilangan segalanya tuh mereka?
hmm… rasa2nya justru harus kasihan pada mereka yah, Na…

Salam.

irfan Says:
menjadi manusia yang bisa menerima apa yang dianugerahkan sang pencipta….
itulah manusia bahagia……

setuju bu, sama pendapat dikau !

Goen Says:
Menyenangkan melihat Dina selalu bahagia, yang penting Putri Dina bisa dan sudah membanggakan ma’e dengan berbagi sebagian dari tulisan yang sudah memberi arti buat orang lain…. that’s beauty of you..salam kenal.

Primaz Says:
Met kenal, tulisan nya cantik dan menyentuh. Saya suka
Dari dalam mengalir keluar, apa yang berada di dalam jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini (covey).
Kadang kita memang lebih suka tertipu oleh bungkus yang elok, meski itu sebenarnya imitasi.
Tapi cw kalo langsing memang lebih gampang untuk di peluk ya …wek wek wek

HTR Says:
Dina, dengan mentertawakan diri sendiri tandanya kita menikmati hidup. Dan senang sekali aku bisa melewati hidup yang sakit dengan mengenalmu. Eh, btw, itik jelas lebih populer daripada angsa, lebih disukai banyak orang. Buktinya itik menjadi makanan yang digemari. Lihat saja Bebek Bali, Bebek Peking serta Bebek Goreng Lamongan. Gurih dan lezat..he..he

hani Says:
ayo ke NZ, di danau kampus banyak itik2 berenang dan friendly banget…hihihi

hmm.. Says:
haaa… lagi-lagi tulisan yang menghangatkan hati. makasih ya Na.
sekarang saya sudah di negeri jiran. menyenangkan deh, kapan-kapan main ya.

vie Says:
napa ya, model jurnalis cwek selalu hampir mirip. terkesan cuek makanya rata2 kayak bebek, kweek…kweekk…kweeekkk. Tapi yang pasti mereka gak pernah ngalami yang namanya brain-dead. Lho kok jadi ke profesi ya…
Ehm..kalo soal tubuh sehat, gak usah susah2 mikirinya. Lebih susah kalo gak punya tubuhkan?

Bunda Says:
andaikan itu berat badan bisa ditranfer ke gua, pasti balance =)) tapi ga janji dengan idungnya, soalnya kita (kita ?) sama-sama dari golongan idung gede…:D
meni sombong ih…ke bogor ga bilang-bilang, kan gua bisa ikutan moto-moto, kesian kamera gua nganggur…:D

Dede Supriyatna Says:
Salam kenal Dina, sepertinya saya akan sering-sering mengunjungi lesehan dan senja ini, sekedar menikmati hidangan yg lezat dan secangkir coklat panas? masih tersedia bukan?

aRdho Says:
hmm..
mau komen..
CIIEE.. yg baru masuk majalah..

rievees Says:
Gw juga dari zaman kuda gigit jari, berusaha ngeyakinin diri gw sendiri ‘n numbuhin PD kalo: “ga perlu putih, langsing dan rambut lurus buat jadi cantique” (quoted from body shop)… Tapi kayanya gw masih termasuk orang2 ‘modern’ yang kemakan provokasi iklan produk kecantikan…

joko irianto ham Says:
Cantik? Bukan teori fisika. Ada, sejak ikhwal kesejarahan niaga. Unik. Kadang disakralkan ngelebihi agama. Naif. Tertipu menipu, sah. Cantik sejatinya buruk. Saripatinya, menguji cinta. Di sini, berlaku rumus pemutlakan. Alur sebab akibat, naif ditawar. Nah, pikiran jangan saling menghancurkan. Ssst…, jadilah perempuan sejatinya perempuan!

penikmatlesehan Says:
ya Dina.. sudah saatnya kita melihat kecantikan dari sudut pandang yang berbeda!! gambaran body ramping itu cantik, kulit putih, rambut panjang dan lurus itu cantik, itu hanya misi kaum kapitalis untuk memasarkan produknya. tapi kenapa banyak wanita yang rela berkorban untuk kaum kapitalis ya.. *bingung*

Ela Says:
Dina Sudinaa….
Sudah lama nggak liat dirimu..sekarang tambah melar ya? )
Nggak apa-apa sih dibandingkan diriku yang gini-gini aja..nggak melar-melar..hehehe…Tapi dibanding dulu, mending sekarang deh..SEGEERRR

restituta Says:
yg penting inner beauty, Na.
jadi inget gue, pirman, sila pernah ngomongin soal film roman. intinya: cintalah yang membuat seseorang terlihat cantik, bukan kecantikan yang membuat orang lain jatuh cinta.
smoga smoga, ada orang yang melihat kalo gue ini cantik.
hahaha ~(^-^)~

MatahariJingga Says:
Hola mba.. gak nyangka dah jadi penulis skrg.. satu yg tetap aku inget dr mba, mba itu FUNNY (extraordinary..) dan itu yg m’buat u look so beautifull…hehe.. jadi lupain tuh muka cantik tapi jutek..

Doel Says:
Selamat berbahagia dengan hanya ada satu “Putri Didi” di dunia… tidak perlu yang special karena hanya ada satu

Fitra Says:
My dear Didin…. When the 1st time I read your Blog, I decided my self that the writer must have a beauty inside, then when the 1st time I met you….I have no doubt that you are beautiful indeed, cause I can feel it…..your friendship with a heart! Beauty is not only a matter of eye…but a heart….right….?

Qky Says:
bagi saya, cantik dan menyenangkan dua hal yang berbeda, idealnya adalah keduanya dapat dimiliki.
yaaa…, setiap “lelaki” (nggak muna..) mendamba keduanya “cantik dan menyenangkan”, tapi mereka tahu, tidak semua laki-laki beruntung…
bagi saya, menyenangkan lebih cantik dari jutek (asal TULUS) hehehehe