This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Tuesday, September 12, 2006

MAKAN DI SURABAYA? PATEEENNN!!!

Main Ke WARUNG RAWON SETAN...

konon, puluhan tahun yg lalu waktu zaman revolusi di tengah kota surabaya ada warung rawon yg buka di depan gedung nirom (nederlands indische radio omroep maatschappij). sehingga dg gampang warung ini dikenal sbg warung rawon nirom. bisnis sop keluwek ini bertahan terus sampek sekarang. posisinya sudah nggak lagi di depan gedung nirom (lha nirom'e wes buyar rek). disono sekarang ada hotel jw marriott. warung rawon tadi juga sudah nggak lagi dikenal sbg rawon nirom, sekarang orang nyebutnya rawon setan.

kenapa disebut rawon setan? karena warung ini baru buka sekitar jam 23:00an (bareng setan2 gentayangan), dan biasanya buka sampek kurang lebih jam 02:00an. walopun rawon setan ini cuman warung tenda di pinggir jalan, tapi konsumennya banyak yg bermobil mewah, plat nomernya juga nggak selalu L. dan hebatnya, mereka yg biasa dilayani secara mewah di restoran mahal bersedia berdiri antri lama di pinggir jalan demi rawon setan ini, Wuih weidyaann!

jadi sehebat apa sebenernya rawon setan ini? banyak orang yg tergila2 pd rawon ini karena reputasinya. kalo temen2nya pada bilang enak, bisa disimpulkan rawon ini = betulan enak. sehingga kemudian otaknya juga akan terkondisikan untuk bilang rawon ini enak. kemudian dia akan rekomendasikan ke temen lainnya sbg rawon enak, dst... sampek reputasi ini terdengar orang2 beken: krisdayanti, bahkan presiden sby juga suka rawon ini.

soal rasa, bumbunya memang meresap ke dalem daging, dagingnya empuk, tapi teksturnya masih terasa, n potongannya gede2. sayang, kualitas daging ini mesti dikompromikan dg gajih yg generous. selain itu kuahnya juga cenderung asin, tapi agak light, kurang rich. perlu ditambah side-dish telor asin ato paru goreng dan krupuk udang biar lebih sip. menurut penilaian subyektif saya, rawon setan nggak lebih nikmat kalo diadu langsung dg rawonnya restoran ria ato rawon nguling. dan pastinya, rawon setan kalah telak kalo diadu dg rawon Yang Uti saya. mereka yg pernah ngincipi rawon yang Uti saya pasti setuju.

yg menarik dari rawon setan: volume porsinya sih standard, ato mungkin bisa dibilang porsi cewek ya? tapi itu cuman berlaku untuk order pertama, kalo berani minta nambah porsi kedua... surprise! volumenya = porsi kuli pelabuhan jack.

itu tadi soal produknya. berikutnya kalo bicara pelayanan, yaaa... sebenernya nggak bisa dibilang istimewa. ibu2 yg jaga kasir terkesan judes ngelayani konsumen. ini bukan cuman pendapat saya pribadi lho, orang lain juga bilang gitu. terus harganya untuk kelas warung pinggir jalan, rawon ini terbilang premium, satu porsi rawon dihargai 16 ribu rupiah. itu rawon tok lho, nggak pake nasi. kira2 wajar nggak ya harga segitu untuk kualitas rawon seperti itu? memang sih bahan bakunya (daging) bukan barang murah di pasaran. Blum lagi pengamen yang shiftnya 3 menitan...ugghh kessel!!

mungkin ini penyakit pedagang asli indonesia. kalo reputasi sudah berkibar, pelanggan sudah rame, mereka suka lupa aturan main: pembeli adalah raja.

btw ngomong2 soal setan, di deketnya kasir saya nemu stiker menarik: