This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Saturday, September 09, 2006

SEDUDO's...



Dalam sebulan ini..saya sudah 2x ke Sedudo...
Yang pertama piknik dengan teman2 yang dipaksa untuk nemenin keBTan..Mengingat masa lampau..Ngimingi si kakak solo yang sendirian..Skalian perpisahan dengan si kakak Kris yang mo ngungsi ke Maluku... (hi hi hi ngungsi kok malah marani daerah konflik to Mas?).

Yang kedua adalah, budhal sak karepku dewe...Secara saya dah lama ndak jalan no plan, without map..
Siap2 Backpack ijo dekil! HOKEH HOKEH...ayok budhal!!
Yang pertama, nyari bis ke nganjuk..Kata mas Eddy, aku harus berhenti di Terminal lama. Dari situ, aku naik minibus ke Sawahan, mentok sampai perhentian terakhir di pasar. Dari situ, aku harus naik ojek ke air terjun Sedudo.

Sesuai petunjuk, aku berhenti di terminal lama. Niatnya pengen makan di warung bu Sri, yang –lagi-lagi- menurut mas Eddy punya rawon enak. Tapi, sepertinya itu bukan ide bagus. Makan di air terjun akan lebih dramatis! Hehehe…

Sampai di terminal bis, aku bertanya ke pak polisi yang nongkrong di posnya: mana angkutan menuju sawahan. Pak polis memberi tahu dengan ramah. Dan tada… minibus itu sedang penuh-penuhnya karena waktunya bertepatan dengan anak bubaran sekolah. Tapi sudahlah. Seru juga kale!

Satu jam meringkuk di dalam minibus dengan memangku tasku yang berat, aku akhirnya tiba di pasar Sawahan. Aku membatalkan rencana makan di air terjun. Soalnya perutku sudah lapaaaaaaaaaaarrr! Parahnya, si ibu penjual makanan tinggal punya ayam pedas tok. Sambil ber huh-hah (kepedesan) aku ngobrol sama ibu Sur, sang pemilik warung.

Dari situ, aku naik ojek. Kata Bu Sur, ojeknya suruh tunggu aja. Karena dari air terjun tidak ada kendaraan. Apalagi itu hari selasa dan disana sepi. Tukang ojek ‘berebutan’ ingin mengantarku. Tentunya, sambil senyum-senyum nggak penting.


Pemandangan menuju air terjun yang letaknya ke atas gunung itu sangat indah. Dari ketinggian, bisa dilihat hutan dan sawah. Hijau dimana-mana. Disepanjang jalan, terdapat bunga mawar yang memang dibudidayakan oleh penduduk setempat. Jalan itu jadi wangi! Semain ke atas, hawa semakin dingin. Tadi, aku sangat berniat untuk mandi, soalnya panas. Setelah dingin begini… hmm… liat nanti saja.

Aku tiba sekitar jam tiga di air terjun itu. Air terjunnya indah dan tinggi sekali. Masyarakat setempat percaya, mandi dia air terjun itu bisa membuat awet muda. Terutama pada malam suro. Jadi, kalau sudah malam suro, banyak sekali orang datang, bahkan dari luar daerah, untuk mandi disitu.

Aku buru-buru melepaskan sepatu. Disitu tidak banyak pengunjung. Hanya ada dua pasang abg dan empat orang laki-laki yang tampangnya jawa banget. Dengan tertawa girang, aku langsung membasahi kaki di air yang dalamnya Cuma semata kaki. Tapi… tiba-tiba hujan deras sederas-derasnya. Hmmm…. Mandi? No way! Dingin sekaliiiii! Jadinya, aku hanya duduk dan menikmati hujan dan pemandangan air terjun.

Saat hujan berhenti, aku pulang. Tukang ojekku masih setia menanti. Di tengah jalan, niat memotretku langsung diurungkan. Apa pasal? Hujan lagi aja gituuuuu! Berhubung bis terkahir ke kota katanya sekitar jam 5, aku tak berani ambil resiko. “Kita terobos aja Mas,” kataku ke tukang ojekku. Dia tak keberatan. Berhujan-hujananlah kami dijalan.

Jam 5 pas aku tiba. Tak ada bis. Kalaupun ada yang datang, bis-bis itu tidak kembali ke kota. Tukang ojek yang rata-rata berusia muda itu berganti-ganti ‘flirting’ denganku. Nanya nama, asalku dari mana, kenapa sendiri, mana temannya, mana pacarnya, sampai… “cari pacar orang sini aja mbak!”. Gubrak!!!!

Sampai pukul enam, bis juga belum ada. Seorang tukang ojek yang dari tadi keukeuh ‘menemani’ dan membujukku untuk naik ojek ke kota, akhirnya tersenyum puas saat aku menganggukkan kepala. Tentunya, setelah aku menawar ongkosnya: dari 30 ribu menjadi 20 ribu. Catat: itu perjalanan satu jam! Kalo di Jakarta, mana ada tukang ojek dermawan gitu ya? Setelah si ojek ini membawaku berputar-putar kota Nganjuk (dengan alasan: lewat jalan kecil ya mbak, karena gak pake helm!), aku tiba di terminal. Dengan berharap, dia meminta nomer henponku. Situ oke??? Hahahah… tukang ojek aneh! Ya jelas aja nggak aku kasih!