This is the stories of my life, my thought, also my feeling. Sad, desperate, laugh, happiness...everything. I just hope we all can learn something. Enjoy

Friday, September 22, 2006

We’re Different, So what?

Sebagai seseorang yang menganggap laki-laki dan perempuan setara, tadinya saya mengira banyak orang terlalu melebih-lebihkan perbedaan perempuan dan laki-laki. Tentu saja saya masih suka pakai rok atau gamis, tapi rasanya saya bukan tukang pedandan (meski punya banyak ‘gadget’ dandan, tapi saya jarang bedakkan), juga bukan maniak shopping (kecuali outlet hehe), dan juga saya tidak terlalu hobi dengan acara beres-beres. Perbedaan sifat itu menurut saya seringkali disalahgunakan untuk membuat pertentangan gender, istilahnya, "Udahlah kodrat laki kan gini, ngapain hobi masak, abis itu kodrat perempuan gini, ngapain sih cari kerja di luar rumah".

Tapi kenyataannya, Tuhan memang menciptakan kita berbeda sifat, meski saya tetap menganggap perempuan sah-sah saja mencari nafkah, bekerja di luar rumah, dan laki-laki juga sah-sah saja menekuni kursus menjahit dan tinggal di rumah.

Satu kali, temen cowok saya menelepon, "Aduh, stress!!". Mendengar suaranya yang seperti stress benaran, saya ikutan panik, "Kenapa ?"

Jawab dia, "Prancis kalah." Astaganaga -- ternyata bola toh, ngapain juga gue pikirin ? Tapi bagi laki-laki, olahraga adalah nafas dan mereka bisa stress seharian kalau tim jagoannya kalah. Bagi saya, tidak ada efeknya kalau Michael Schumacher atau Alonso menang balap F1, tapi bagi pemujanya yang kaum Adam, bisa sampai 2 hari jadi pembicaraan seru.

Obsesi pada olahraga ini memang tipikal laki-laki. Kata Jay Leno, laki-laki memang terobsesi dengan skor, memperoleh hasil cepat, sehingga mereka merasa adrenalinnya terpacu tinggi begitu melihat pertandingan olahraga.

Hmm ... saya kira biasanya perempuan ini dibilang membicarakan hal-hal tidak penting. Kalau perempuan kan terlihat 'dalam' pemikirannya, kayak hobi nonton Oprah, atau membicarakan permasalahan hati ke hati.

Meski sama-sama menyukai makhluk cakep, laki-laki lebih sensitif radarnya kalau melihat perempuan cantik. Rata-rata teman-teman saya yang kaum Adam, meski sudah beristri atau berpasangan tetap selalu melirik dengan refleks begitu merasakan kehadiran perempuan cantik. Dalam hal ini, radar mereka bisa berfungsi dalam radius 5-10 meter. Anehnya, kalau mencari barang-barang kecil seperti gunting, meski hanya berjarak 2cm , susah sekali ditemukan.

Sementara perempuan, cenderung lebih awas melihat barang kecil. Misalnya, mama saya biasa memiringkan kepalanya dan memicingkan mata menatap bufet yang berjarak 3 meter dari TV, "Kayaknya debu di situ sudah 2 cm, kalian kemocengin yah!"

Sahabat pria saya bilang, "Bukannya kalian suka juga lihat yang ganteng. Misalnya Brad Pitt ?" Lha, tapi rasanya perempuan tidak sesensitif itu, selain menurut saya jumlah lelaki ganteng yang bener-bener eye catching memang sangat kurang dibanding perempuan cantik hehe. Tapi tentu saja kalau idola saya jaman ABG, Johnny Depp lewat di depan saya, bisa-bisa saya kipas-kipas heboh. Saya ingat, dulu waktu SMP heboh-hebohnya mengikuti 21 Jump Street yang dibintangi Johnny Depp, saya dan teman-teman buru-buru meninggalkan les Inggris untuk sampai ke rumah menonton Bang Johnny.

Habis itu, saya melihat perbedaan laki-laki dan perempuan kalau jatuh cinta. Perempuan biasanya hobi mencurahkan kebaikan cowoknya pada teman-temannya dengan begitu detil, sehingga kami tahu cowoknya itu ga suka pedas, narsis, kerja di mana, adiknya berapa dsb. Anehnya, teman-teman yang laki-laki tidak pernah membicarakan atau jarang membicarakan sifat-sifat pacarnya.

Yang biasanya dibilang singkat aja, "Lihat cewek gua, mantep ya. Banyak yang ngejar dia juga lho, tapi gua yang dapat." Biasanya ini diakhiri dengan pameran foto terbaik pacarnya yang disimpan di dompet. "Mantap kan ?" begitu biasanya mereka meminta komentar. Tidak ada komentar lanjutan, "Dia ini baik sekali, wawasannya luas, perhatian sama aku, adiknya segini, ibunya kerja di anu ... " seperti umumnya acara pameran pasangan oleh perempuan.

Dalam pertemanan saya dengan laki-laki, saya melihat laki-laki dan perempuan punya currency berbeda dalam melihat kesuksesan. Seorang perempuan yang super sukses dengan karirnya bisa iri dengan perempuan yang tidak berkarir di luar rumah tapi punya keluarga, kemudian perempuan menaruh nilai tinggi pada penampilan. Perempuan banyak merasa stress atau kurang berhasil kalau bertubuh lebih gemuk sedikit saja dibanding teman-teman sejawat.

Laki-laki, di lain pihak menaruh kunci kesuksesan pada jabatan yang dipunyainya dan juga mobil yang dikendarainya. Kalau perempuan tidak terlalu peduli dengan hal ini, maka lelaki bisa stress berat kalau teman sebayanya sudah mengendarai mobil yang mantap, seperti teman saya yang pasi melihat seorang rekan kami keluar kampus dengan sedan mewah.

Kita memang berbeda, memang apakah kita memiliki lebih banyak hormon testosteron atau estrogen sangat menentukan sifat-sifat kita. Di lain pihak, saya rasa di situlah menariknya dunia ini bukan ?